Singapura ( Berita ) : Kelompok pemerhati lingkungan hidup Greenpeace mendesak pertemuan menteri energi ASEAN hari Kamis menarik rencana pembangunan pembangkit nuklir, yang berpengaruh terhadap keamanan serta perkembangan senjata.
Pernyataan tersebut keluar bersamaan dengan pertemuan tahunan menteri ASEAN di Singapura, dengan perhatian utama pada pemanfaatan energi nuklir, yang aman.
Setidak-tidaknya, tiga negara anggota ASEAN, yakni Indonesia, Thailand, dan Vietnam, mengumumkan rencana mereka membangun sarana nuklir, yang dapat mengurangi ketergantungan pada minyak mentah serta gas alam, tapi yang akhirnya dapat meningkatkan kewaspadaan pada sektor keamanan.
“Salah satu jalan keluar untuk kebutuhan akan energi, yang diajukan menteri ASEAN itu, adalah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir,” kata Nur Hidayati, bidang kampanye energi dan iklim untuk Greenpeace di Asia Tenggara.
Hidayati mengatakan, hal tersebut adalah usul amat berbahaya jika diikuti dan nuklir bukan jalan keluar, karena menciptakan masalah baru serta akibatnya akan berlangsung dalam waktu lama.
Para menteri mengharapkan dapat membahas cara aman untuk mengamankan persediaan energi, yang dibutuhkan untuk perkembangan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.
“Persediaan energi murah serta tidak pernah habis amat penting bagi keberlangsungan perkembangan Asia dan ASEAN adalah salah satunya,” kata Wakil Perdana Menteri Singapura serta Menteri Koordinator untuk Keamanan Nasional S Jayakumar dalam pidatonya.
“Sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi sangat cepat, ASEAN amat membutuhkan peningkatan persediaan energi untuk bahan bakar serta untuk perkembangan ekonomi,” katanya.
Ia mengatakan, ASEAN harus terus mencari energi lain, seperti, bahan bakar hayati serta tenaga nuklir untuk kepentingan sipil.
Dengan banyak negara dunia berencana mengembangkan tenaga nuklir sebagai persediaan energi, menurut Jayakumar, ASEAN harus mulai membahas pemanfaatan energi tersebut secara aman di antara negara anggotanya.
Tapi, pegiat nuklir dari Greenpeace itu mengatakan ASEAN tidak memiliki pengalaman dan tenaga terlatih untuk menjalankan pembangkit tenaga nuklir. Mereka juga mengingatkan bahaya buangan nuklir, yaitu plutonium, yang dapat jatuh ke tangan salah.
Plutonium adalah bahan dasar utama untuk membuat bom nuklir.
Selama pertemuan tahunan menteri ASEAN di Manila bulan lalu, Menteri Luar Negeri ASEAN membahas cara membuat aturan, yang dapat memastikan bahwa energi atom hanya digunakan untuk kepentingan damai.
Greenpeace juga mengatakan, negara ASEAN kurang pengalaman dalam menyimpan dan membuang sampah radioaktif.
Dengan keadaan daerah sering mengalami gempa bumi serta ledakan gunung berapi, tidak terbukti bahwa negara anggota ASEAN memiliki kemampuan berhubungan dengan kebocoran dari pembangkit tenaga nuklir.
Sementara itu, Jayakumar dalam pidatonya mengatakan bahwa kesepuluh negara anggota ASEAN juga akan menandatangani naskah persepahaman tentang energi listrik, yang akan menjadi kerangka berpikir untuk mewujudkan kegiatan tersebut.
Pembangkit Listrik ASEAN adalah rencana ambisius, yang dapat menghubungkan negara anggota, sehingga dapat memastikan persediaan energi, tempat negara anggota memiliki persediaan energi berlebih dapat menjualnya kepada negara tetangga mereka.
Negara anggota ASEAN adalah Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei dan Vietnam. ( ant/afp)
You must be logged in to post a comment Login