Presiden: Ekonomi Indonesia 2008 Akan Tetap Baik

Jakarta ( Berita ) :  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008 tidak perlu dikhawatirkan karena perekonomian nasional sudah pada arah yang benar dengan terus menguatnya fundamental ekonomi dan terbukti mampu bertahan dari berbagai gejolak ekonomi dunia.

“Laporan mengenai capaian kinerja pasar modal kita itu mencerminkan banyak hal. Yang jelas arah pembangunan ekonomi paska krisis sudah pada arah yang benar. Fundamental ekonomi makin baik karena bisa meredam gejolak dari luar seperti kasus ‘subprime mortgage’ dan kenaikan harga minyak dunia. Daya tahan ekonomi kita makin baik dalam menghadapi gejolak,” kata Presiden usai membuka perdagangan saham hari pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu [02/01].

Dengan kemampuan ekonomi seperti itu, Presiden mengatakan bahwa ramalan mengenai melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia tidak akan terlalu berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, karena ekonomi Indonesia saat ini sudah mampu berjalan dengan lebih baik.

“Ramalan mengenai ‘economic slow down’ harus diantisipasi, tetapi jangan terlalu cemas, sebab prospek ekonomi Indonesia 2008 tetap positif, tetap baik. Dampak kasus ‘subprime mortgage’ hampir tidak ada pengaruhnya yang dianggap mengganggu. Pengaruh harga minyak, jangan lupa Indonesia juga negara produsen minyak yang membuat pengaruh kenaikan harga minyak ada plus minusnya bagi kita, ” kata Presiden.

Mengenai pengaruhnya pada kinerja ekspor nasional, Presiden menyatakan juga tidak perlu dikhawatirkan karena produk pertanian dan pertambangan Indonesia masih memiliki daya saing yang cukup baik, begitu pula mengenai arus investasi asing.

Presiden mengatakan, pertumbuhan perekonomian dunia diperkirakan akan turun dari 5,2 persen pada tahun 2007 menjadi 4,8 pada tahun 2008 sehingga pemerintah harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional dan segera mencari peluang untuk mengatasi pelambatan itu.

Ada tiga peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi penurunan pertumbuhan ekonomi dunia yaitu, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang positif saat ini, mendorong pembangunan infrastruktur yang bisa menggerakkan sektor ekonomi lain dan menjaga kestabilan makro ekonomi.

Presiden juga menyatakan dalam tahun 2008 ini ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi yaitu upaya untuk memelihara momentum pertumbuhan dari pengaruh inflasi yang bersumber dari barang energi dan makanan, memelihara kelanjutan reformasi, dengan terus gigih melaksanakan reformasi dan membangun demokrasi, memelihara ekspor dan produk industri, menjaga ketepatan anggaran agar efektif

 

Keluarkan Insentif

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan akan segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai pemberian insentif fiskal kepada perusahaan yang akan melepas sahamnya ke masyarakat atau Go Public.

“Saya setuju untuk diberikan insentif fiskal untuk perusahaan yang ‘go public’ dengan syarat minimal saham yang dilepas 40 persen, dan PP-nya jika sudah selesai segera  saya tandatangani,” kata Presiden saat berdialog dengan pelaku pasar saham di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Rabu [02/01] .

Menurutnya, dengan insentif ini diharapkan lebih banyak lagi perusahaan di Indonesia yang akan melepas sahamnya ke masyarakat sehingga akan memperkuat pasar saham di Tanah Air.

Presiden juga meminta lebih banyak lagi investor individu dan domestik di pasar modal. Jika keduanya bisa diperkuat maka pasar modal bisa kuat terhadap goncangan ekonomi dunia karena penyangganya berasal dari dalam negeri.

Sementara Menkeu Sri Mulyani mengatakan,  pada 2007 tercatat 61 perusahaan melakukan penawaran umum. 23 diantaranya melakukan emisi saham dan 38 melakukan emisi obligasi. Totalnya mencapai Rp47 triliun ini yang tercatat untuk masuk di dalam pencatatan PDB yang merupakan komponen investasi.

Dibandingkan 2006 bertambah, 12 emiten saham dan 14 emiten obligasi dengan total nilai emisi mencapai Rp12,77 triliun. Hal ini menunjukkan berbagai bentuk bahwa industri pasar modal dengan sektor riil suatu hubungan yang tidak terpisahkan.

Tahun lalu, kata Menkeu, untuk pertama kalinya sejak industri ini diliberalisasikan pada awal 1990 partisipasi pemodal domestik telah berada di atas aktivitas transaksi dari pemodal asing.

“Jadi sebetulnya kita sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Menkeu.

Meski begitu, dalam mencermati tren itu  bukan berarti peran investor asing mulai berkurang tetapi karena partisipasi investor domestik semakin meningkat dalam budaya berinvestasi di pasar modal termasuk masyarakat umum.

Menkeu juga mengatakan, jajaran BEI menyumbang Rp 3 miliar untuk bencana alam yang terjadi di Indonesia. Presiden juga mengingatkan bencana alam bisa mengganggu ketahanan pangan sehingga Pemerintah perlu menambah anggaran untuk penanganan bencana alam. ( ant )

You must be logged in to post a comment Login