40 Persen Sawah Di Muko Muko Jadi Kebun Sawit

Muko Muko, Bengkulu ( Berita ) :  Sekitar 40 persen areal persawahan di Kabupaten Muko Muko telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan tanaman keras lainnya, sehingga upaya Pemkab setempat untuk memenuhi target penanaman 13.000 hektare (Ha) padi dengan produksi 70 ribu ton pada tahun 2008 terancam gagal.

Di irigasi Manjunto Kiri, dari 7.612 Ha areal persawahan, hampir setengahnya sudah jadi kebun sawit, kata Kelapa Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Perhutbun) Muko Muko Ir Zamdial Taalidin, Kamis [10/04] .

Menurut dia, alih fungsi itu melanggar peraturan tentang peruntukan berdasarkan kesesuaian lahan, pihaknya tetap berupaya meyakinkan petani agar tetap menanami areal sawah sehingga produksi sebanyak 48.000 ton gabah pada 2007 lalu dapat ditingkatkan.

Ada dua alasan utama petani melakukan alih fungsi, yaitu kondisi tanah di beberapa lokasi persawahan yang bukan tanah mineral, yakni berupa lahan gambut. Padahal di beberapa areal lahan gambut ini jaringan irigasinya sudah tersedia.

Untuk mengantisipasinya, pihaknya sudah membuat kesepakatan dengan petani untuk membangun jaringan drainase sehingga lahan gambut bisa dicuci, direklamasi dan bisa ditanami. Alasan lain, kata dia, belum terdistribusinya jaringan irigasi secara merata ke sawah-sawah milik petani, sehingga dalam setiap kesempatan pertemuan, petani selalu mengultimatum pihak Disperhutbun untuk segera membuat jaringan irigasi dan jika tidak dibangun petani akan secepatnya menanami sawit. “Untuk memenuhi permintaan petani ini kan perlu proses, tidak bisa kapan diminta langsung dipenuhi, program perbaikan jaringan irigasi memang salah satu program utama kita tapi masih banyak prioritas lain yang tidak kalah penting. Jadi kami mengharapkan petani bersabar,” ujar Zamdial.

Ia menjelaskan, petani sudah membuat hitungan-hitungan antara memiliki satu atau dua hektare padi atau sawit, dan hasil hitungan tersebut memang menanam sawit lebih beruntung. “Dalam hitungan mereka, harga gabah terus di bawah standar ongkos produksi, belum lagi pupuk yang kerap langka di pasaran, sedangkan sawit sudah pasti, akhirnya mereka memilih sawit,” katanya.

Di Kabupaten Muko Muko terbentang 25 ribu Ha potensi areal persawahan, namun dari luasan itu baru 8.000 Ha yang dimanfaatkan, dengan rincian sekitar 5.000 Ha di Manjunto Kiri Kecamatan Lubuk Pinang, 1.600 Ha di Kecamatan Teras Terunjam, 650 Ha di Kecamatan Pondok Suguh dan 850 Ha di Kecamatan Muko Muko Selatan.

Untuk meningkatkan areal persawahan, pada tahun ini dilakukan perbaikan jaringan irigasi, khususnya jaringan tersier dan seluruh perangkatnya di 39 titik lokasi dengan dana APBD senilai Rp5,8 miliar.

Selain itu juga akan diberikan bantuan kepada kelompok tani melalui program dana tugas perbantuan dari Departemen Pertanian melalui APBN senilai Rp2,9 miliar untuk program Pengelolaan Lahan dan Air (PLA). “Dana ini dikelola oleh kelompok tani untuk memperbaiki jaringan irigasi yang rusak, pembuatan jalan usaha tani atau setra produksi. Sebanyak Rp2,7 miliar khusus untuk tanaman pangan seperti pengadaan benih padi dan jagung,” katanya.

Bantuan pengadaan sarana pasca panen untuk tanaman pangan juga diperoleh senilai Rp600 juta, sedangkan untuk bantuan pengembangan tanaman hortikultura diperoleh senilai Rp200 juta. ( ant )

You must be logged in to post a comment Login