DeputI PM Malaysia: Hubungan Pemimpin Malaysia-Indonesia Serasi

Jakarta ( Berita ) :  Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak mengatakan bahwa para pemimpin Indonesia dan Malaysia menjalin hubungan serasi yang ditandai dengan saling mengunjungi guna meningkatkan kerja sama kedua negara bertetangga.

“Di tingkat atas, hubungan antara pemimpin kedua negara sangat akrab dan serasi. Mereka saling menghubungi,” kata Najib dalam wawancara khusus dengan Antara dan kantor berita Malaysia Bernama di ruang VIP bandara Halim Perdanakusuma Jakarta Senin [02/06] malam sebelum ia dan rombongannya bertolak kembali ke negerinya.

Lebih jauh Najib yang disertai antara lain Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zaenal Abidin Mohd Zain memberi contoh tentang hubungan erat yang dijalin antara dirinya dan Wapres Muhammad Jusuf Kalla. “Kami sering saling menghubungi antara lain melalui telefon,” katanya.

Hal sama juga dilakukan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tambahnya.

Dalam lawatan dua-harinya di Jakarta sejak Minggu, Najib bertemu dengan Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, Senin pagi di tempat terpisah.

Kalla dan Najib dijamu makan siang oleh dua perusahaan Malaysia yakni Khazanah Nasional danCIMB Group dan Wapres Kalla kemudian menjamu makan malam rekan sejawatnya.

Deputi PM Malaysia itu melawat ke Indonesia sehubungan dengan penandatanganan rencana merger dua bank swasta nasional PT Bank Niaga Tbk dan PT Bank Lippo Tbk. Khazanah Nasional dan CIMB Group memiliki saham di dua bank tersebut.

Rencana penggabungan usaha ini diambil untuk memenuhi kebijakan kepemilikan tunggal (SPP) yang dikeluarkan Bank Indonesia sebelum batas waktu yang ditentukan pada 2010.

Dalam jamuan makan siang itu baik Najib maupun Kalla memiliki kesamaan pandangan sebagaimana mereka sampaikan dalam sambutannya.

Mereka berharap kedua negara lebih mengedepankan usaha-usaha bersama yang strategis untuk mencapai kemakmuran kedua bangsa.

 

Peran Media

 

Dalam wawancara tersebut Najib juga menyinggung peran media massa yang ikut memperbesar hal-hal kecil sehingga membuat panas.  “Media di Indonesia khususnya terlalu bebas dan susah dikawal oleh siapapun dan mereka suka berita sensasi,” ujarnya.

Menurut dia, pemberitaan soal penganiayaan oleh majikan terhadap tenaga kerja asal Indonesia sering diberitakan media. “Sebenarnya ini masalah individu dan terkait masalah hukum dan tak sepatutnya menyeret negara,” katanya.

Ia berharap dalam perspektif negara serumpun antara Malaysia dan Indonesia, media kedua negara dapat memainkan peranan penting dalam pengembangan pemberitaan yang konstruktif. ( ant )

You must be logged in to post a comment Login