Hendrik Simangunsong: Arena Tinju PON Dikuasai Raja Suap

 

SAMARINDA (Berita): Manajer Tim Tinju Sumut Hendrik Simangunsong mengatakan, arena tinju Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII/2008, di Komplek GOR Tenggarong Kutai Kartanegara, Kaltim saat ini sudah dikuasai para raja-raja suap.

“Raja-raja suap itu telah menyuap para wasit dan hakim yang memimpin pertandingan pada even terakbar di tanah air itu,” ujar Hendrik Simangunsong yang tidak terima anak asuhnya Rumiris Simarmata dikalahkan petinju Sulawesi Utara (Sulut) Yonike Rotty, Jumat (11/7) di GOR Tenggarong.

Dikatakannya, Rumiris yang bermain di kelas 48 Kg puteri memang sengaja dikalahkan wasit dan hakim pertandingan yang telah menerima suap dari para penyuap. “Saya lihat sendiri para hakim pertandingan saling main mata dan memberi kode melalui kode agar memberi nilai kepada lawan Rumiris, Yunike Rotti,” katanya.

Kejadian suap menyuap seperti ini, menurut Hendrik memang sering dilakukan wasit dan hakim pertandingan terhadap petinju Sumut bila berhadapan dengan petinju Sulut, Papua dan DKI Jakarta. Sebab, ketiga ini mempunyai uang banyak untuk menyuap para pengambil keputusan di pertandingan tinju tersebut.

“Kalau kita mau mengalahkan petinju Sulut, Papua dan DKI Jakarta, kita harus menang telak, kalau tidak jangan harap kita dimenangkan wasit dan hakim,” ujar Hendrik Simangunsong yang mantan petinju nasional itu.

Suap menyuap di olahraga tinju PON ini, katanya tidak terlepas dari janji bonus yang akan diberikan setiap daerah kepada petinjunya yang meraih medali emas pada even empat tahunan itu. “Ini semuanya dikarena ingin mengejar bonus tersebut, sehingga raja-raja suap berani membayar para wasit dan hakim pertandingan dengan harga tinggi,” katanya.

Sebagai contoh, kata Hendrik, Rumiris yang banyak melakukan pukulan telak ternyata tidak diberi nilai melalui papan skor elektrik, sementara Yonike yang hanya memukul pelan langsung diberi nilai. “Rumiris memang dikalahkan wasit dan hakim,” ucapnya.

“Sebelum pertandingan dimulai, saya sudah bilang sama Ketua Wasit dan Hakim PB Petina Asril Goce agar pertandingan harus fair play, karena mereka telah disumpah sebelum memimpin pertandingan,” kata Hendrik sambil mengatakan mudah-mudahan semua wasit dan hakim yang memimpin cabang tin PON XVII menerima sumpah yang telah mereka ucapkan itu.

Sementara Asril Goce dengan tegas membantah bahwa wasit dan hakim pertandingan di PON XVII ini telah menerima suap. “Sama sekali tidak ada suap di arena tinju PON ini. Apa suap namanya kalau pengurus tinju dari daerah di Indonesia ini datang dan memberi uang kepada saya,” kata Goce.

Goce mengakui bahwa ia adalah asli putera daerah Sumut, namun masyarakat tinju Sumut semuanya memusuhi dirinya. “Saya ini kan asli orang Sumut dan sudah seharusnya didukung, tapi kenyataannya malah saya dimusuhi mereka,” katanya.

Di partai semifinal kemarin, Sumut menurunkan empat petinjunya, namun hanya Sadarmawati Simbolon yang menang atas Marican (Riau) sekaligus berhak tampil di final kelas 46 Kg puteri menghadapi Nur Cahya dari Papua yang menang atas petinju Maluku Tina Pentury.

Sedang dua petinju putera Sumut Nirwan Efendi Harahap di kelas 54 Kg dan Daniel Pasaribu di kelas 64 Kg kalah dari lawan-lawannya di semifginal. Sumut masih menyisakan dua petinju lagi yang belum tampil di semifinal yakni Bengat Simorangkir di kelas 69 Kg putera serta Siti Aisyah di kelas 60 Kg puteri. (irm)

You must be logged in to post a comment Login