“Peran Disperindag dalam mengantisipasi anjloknya harga sawit benar-benar tidak ada sama sekali,” katanya usai rapat dengar pendapat dengan Disperindag Sumut yang dihadiri Kadisperindag Sumut, M. Hasbi Nasution, di Medan, Senin [20/10] .
Menurut Hakim, saat ini harga tandan buah segar (TBS) jatuh pada level terendah mencapai kisaran Rp150 per kg. Akibatnya, banyak petani sawit yang bahkan tidak berani memanen sawit mereka dan membiarkannya busuk di pohon, karena hasilnya tidak mampu menutupi biaya produksi.
Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu berpendapat, terkait harga yang anjlok seharusnya Disperindag ikut aktif mencari alternatif pasar baru atau memaksimalkan industri pengolahan turunan Crude Palm Oil (CPO) menjadi barang jadi atau setengah jadi yang dapat mengurangi angka pengangguran dan pemenuhan kebutuhan industri.
Dia mencontohkan harga minyak goreng yang saat ini masih cukup tinggi, dan harga minyak goreng curah masih berada di kisaran Rp6.000-Rp7.000 per kg.
“Padahal di sejumlah tempat TBS bahkan sudah tidak dipanen karena harganya yang murah dan tidak menutupi biaya produksi, tetapi harga minyak goreng masih tetap mahal,” katanya.
Seharusnya jika harga sawit turun harga minyak goreng juga ikut turun, sehingga bisa meringankan beban masyarakat, tambahnya.
Terkait penyelamatan anjloknya harga sawit, Hakim menyambut baik upaya yang dilakukan Gubernur H. Syamsul Arifin dengan membuka forum kerja sama baru dengan
“Kerja sama serupa perlu terus ditingkatkan selain untuk mencari pasar baru serta untuk menyelematkan perekonomian bangsa dari krisis global yang tengah melanda dunia,” katanya. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login