Tuntutan pengemudi angkot agar pemerintah menurunkan harga BBM sampai 40 persen termasuk realistis. Masalahnya, harga minyak yang sempat mencapai 147 dolar Amerika per barelnya, kini tinggal di kisaran 60 dolar saja.
Jadi, penurunan harga minyak dunia sudah melebihi 50 persen. Oleh karena itu, penurunan harga BBM pun seharusnya mengikuti penurunan harga minyak dunia.
Sebab, kenaikan harga BBM pada Mei lalu dari Rp4500 per liter menjadi Rp6000 per liter dimulai dari harga minyak yang sudah bergerak mencapai 100 dolar per liternya. Pemerintah sibuk, pusing, dan mencari-cari terobosan di antaranya memakai konsep smart card, kemudian defisit anggaran menjadi alasan untuk menaikkan harga BBM.
Tidak itu saja, pemerintah pun sibuk mengompersi minyak tanah untuk rumah tangga menjadi gas, padahal cadangan gas kita pun terbatas. Hal itu menunjukkan tidak kritisnya pemerintah melihat situasi di dalam dan luar negeri.
Bagi pengemudi angkot penurunan premium yang hanya Rp500 per liter tentu saja tidak berarti apa-apa. Konsekuensinya mereka pun takkan bisa menurunkan tarif angkot. Hal ini bisa memicu pertengkaran dengan masyarakat/penumpang. Kalau penurunannya mencapai 40 persen dipastikan pengemudi angkot akan menurunkan tarif sehingga biaya transportasi masyarakat tidak semahal sekarang ini.
Rata-rata anak sekolah dengan dua kali nyambung angkot harus mengeluarkan uang setidaknya Rp10.000, dan kalau dikalikan 24 hari sekolah, maka pengeluaran orang tua murid sudah mencapai Rp240 ribu.
Kalau anaknya dua orang, maka untuk biaya transportasi saja sudah hampir setengah juta rupiah. Begitu juga bagi pegawai dan karyawan sehingga wajar saja kalau kehidupan mereka semakin parah pasca kenaikan harga BBM.
Justru itu, sepatutnya pemerintah menyegerakan penurunan harga BBM dan minimal besarnya sama seperti harga sebelum naik Mei lalu, agar harga-harga bisa kembali turun. Kita melihat sangat banyak positifnya jika pemerintah segera menurunkan harga BBM dalam negeri, untuk menghidupkan sektor riil, memperkuat daya beli masyarakat dan berbagai kegiatan positif lainnya.
Kalau hanya Rp500 maka dampaknya sedikit sekali, bahkan tidak dirasakan oleh masyarakat (rakyat kecil). Kalau penurunannya signifikan tentu dampak dari penurunan harga yang lebih murah membuat daya beli masyarakat jadi lebih kuat. Dan disparitas harga dengan pertamax makin lebar sehingga bisa membuat pengguna pertamax beralih ke premium.
Kita harapkan pemerintah lebih berpihak pada rakyat, dan tidak menjadikan masalah BBM menjadi komoditas politik. Bagi rakyat kecil, lebih baik harga BBM turun lagi ketimbang mendapatkan BLT (bantuan langsung tunai) yang hanya Rp100 per bulan. Lagi pula, konsep BLT benar-benar tidak mendidik, menjadikan masyarakat kelas bawah sebagai objek penderita dan lahan politik untuk menghadapi pemilu dan Pilpres.=
You must be logged in to post a comment Login