Saat berbicara dalam diskusi Forum PPP Mendengar bertema “Partai Islam, Subur Atau Terkubur di 2009″ di Jakarta, Selasa [02/12], Suryadharma menegaskan bahwa saat ini ada upaya untuk memisahkan secara tegas antara nasionalisme dengan religius. “
Suryadharma yang juga Menkop dan UKM itu menyatakan bahwa PPP sebagai parpol Islam telah sejak awal menanamkan semangat nasionalisme kepada para kader dan simpatisannya.
Bahkan, ujarnya, PPP berpandangan membela bangsa dan negara itu adalah sebagian dari iman. “Jadi sangat naif jika menyebut bahwa partai religius itu tidak nasionalis,” ujarnya.
Suryadharma juga membantah anggapan bahwa Partai Islam itu identik dengan kekerasan serta anti dengan pluralisme. “Pandangan seperti itu juga salah sama sekali. Islam tidak bisa dipisahkan dengan pluralisme dan heterogenitas karena hal itu justru ajaran dasar untuk umat Islam,” ujarnya.
Demikian pula dengan sinisme soal PPP bakal menggiring Indonesia sebagai negara Islam apabila menang di pemilu, menurut Suryadharma, pendapat semacam itu sudah usang dan PPP telah lama selesai dengan wacana tersebut.
Pada bagian lain, Suryadharma menjelaskan perbedaan antara partai Islam dan partai berbasis
Menurut dia, Partai Islam adalah parpol yang berazaskan Islam, seperti PPP, PBB dan PKS. Sedangkan partai berbasis
Sementara itu Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi mengatakan bahwa LSI dalam surveinya menemukan bahwa prospek elektoral partai Islam yang tetap mengandalkan politik identitas akan semakin menyurut. “Kemungkinan terbaiknya adalah mereka mampu mempertahankan jumlah kursi yang selama ini sudah dikuasai,” katanya.
Peluang bagi parpol-parpol Islam untuk penambahan kursi, menurut dia, sangat kecil atau bahkan tidak ada. Sedangkan kemungkinan terburuknya adalah perolehan kursi legislatif akan menurun. Atas prediksi itu, Dodi menawarkan dua strategi berbeda, yakni mempertahankan politik identitas ke-Islaman dalam strategi elektorlanya atau justru mengurangi penggunaan identitas keagamaan.
Menurut Dodi, berdasarkan data pemilu yang ada selama ini dan dibandingkan dengan hasil survei, secara elektoral penggunaan strategi mengurangi simbol-simbol keagamaan oleh parpol Islam justru lebih menjanjikan.
Pandangan serupa juga dikemukakan peneliti CSIS J Kristiadi yang menegaskan bahwa identitas Islam justru membatasi ruang gerak partai itu sendiri. Karenanya, menurut dia, strategi membuka diri harus segera dilakukan parpol Islam. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login