AL-Qaida Dan Obama


TELEVISI CNN dan BBC tanggal 19 November 2009 menayangkan keterangan Al-Zawahiri, orang nomor dua dalam pimpinan Al-Qaida setelah Osama bin Laden. Isinya kritik terhadap Presiden-terpilih AS Obama.

Al-Zawahiri orang Mesir, profesinya dokter, tapi berkembang jadi pemimpin militer dalam Al Qaida. Ia mencap Obama sebagai orang yang pro Israel, sebagai orang yang walau punya akar-akar Islam.

Obama sebagai seorang Afrika-Amerika bersama dengan Menlu Condoleeza Rice dan mantan Menlu Collin Powell disebut oleh Al- Zawahiri sebagai ‘ House Negroes’, artinya budak-budak orang kulit putih. Obama dipastikan bakal gagal dalam melaksanakan politiknya di Afghanistan. Kritik Al-Qaida terhadap Bareck Hussein Obama adalah keras dan menghina orang – orang Negro di Amerika Serikat.

Abdel Bari Arwan adalah pemimpin redaksi suratkabar berbahasa Arab yang terbit di London  ‘Al Quds al –Arabi’. Arwan berasal dari Palestina dan sudah tiga puluh tahun bermukim di Inggris. Di BBC ada talkshow bernama Dateline London.

Di tayangan tersebut sejumlah korespon asing yang beketja di London tampil secara reguler mendiskusikan masalah politik. Arwan bila bicara terang -terangan mengkritik negara-negara Arab yang diperintah oleh penguasa otoriter seperti Arab Saudi.

Pada tahun 1996 Arwan diundang oleh Osama bin Laden datang ke tempat persembunyian Osama di Tora Bora di perbatasan AfghanistanPakistan. Ia menulis buku tentang kunjungannya ke Osama itu. Pada tahun 2007 terbit bukunya yang lain  yakni The Secret History of Al-Qaida ( Riwayat rahasia Al- Qaida). Saya telah membaca buku Arwen itu.

Al-Qaida adalah unik dan khas dalam sejarah organisasi-organisasi radikal. Dia organisasi pertama yang beroperasi di seluruh dunia berkat dua faktor yakni (1) Muslim Diaspota, maknanya kaum muslim yang bermukim di luar negeri asal mereka, bertebaran di manca negara, dan (2) terutama internet.

Al-Qaida dengan cara unik adalah berbahaya, lantaran dia punya potensi menarik serta merekrutir ribuan orang dan mungkin jutaan dari 1300 juta jiwa golongan muslim di dunia.

Tanggal 11 Maret 2005 suratkabar ‘Al- Qaida’ menyiarkan intisari sebuah dokumen berjudul  ‘Strategi Al-Qaida hingga tahun 2020’ yang ditaruh di internet oleh Mohammad Ibrahim Makkawi, ahli strategi Al-Qaida, warga Mesir, pakar siasat perang dalam tentara Mesir, kini tokoh Al-Qaida.

Dokumen itu memaparkan lima tahapan dalam perjuangan Al-Qaida. Kelima tahapan atau fase perjuangan Al-Qaida itu membikin keadaan begitu rupa, hingga Amerika menyerang dan melakukan invasi ke negeri-negeri Muslim. Serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaida terhadap gedung bermenara dua di New York, oleh 19 warga Saudi Arab yang menabrakkan dua buah kapal terbang dan berakibat sekitar 3000 orang tewas, yang direncanakan sejak tahun 1998, ujung-ujungnya ialah serangan Amerika terhadap  Afghanistan, disusul dengan invasi di Irak yang presidennya Sadam Hussein.

Fase kedua ialah membangunkan ’raksasa yang tidur’ yaitu Umat Islam sendiri dengan cara memancing dan menarik banyak tentara Amerika ke daerah Muslim yang menimbulkan kemarahan umat dan memicu konfrontasi besar.

Unsur keagamaan yang terkandung di sini ialah ingatan kaum Muslim kepada Perang Salib dahulu. Untuk melakukan perang jihad terlebih dulu harus dimobilisir para mujahidin. Melihat perlawanan di mana-mana terhadap Barat berupa peristiwa pemboman berdarah di Madrid, London, Maroko, tampaknya Al-Qaida menuai sukses.

Fase ketiga ialah memperluas konflik di seantero kawasan dan melibatkan tentara Inggris dan Amerika dalam perjuangan yang lama dan menguras tenaga. Taliban bangkit kembali dengan bantuan Al-Qaida di Afghanistan. Di Irak terjadi serangan oleh kaum sukarelawan dari negeri-negeri Arab lainnya yang berperang sebagai pengebom bunuh diri sendiri.

Fase keempat ialah menjelmakan Al -Qaida sebagai sebuah jaringan dunia semesta melalui perubahan organisatoris, sehinga tidak bisa dijangkau oleh badan – badan intelijen dan keamanan internasional.

Sel-sel baru diciptakan, komandan grup-grup Islam radikal adalah otom dan bertindak sendiri-sendiri, lepas dari pertunjuk atau perintah pimpinan pusat Al-Qaida, dan komunikasi di antara mereka di berbagai lapangan dan negeri berlangsung melalui internet.

 

Fase kelima dan terakhir akan tercapai, bilamana Amerika kewalahan menghadapi Al-Qaida, pengeluaran As untuk tentaranya demikian tingginya, sehingga membawa kepada kebangkrutan keuangan AS, banyak korban militernya yang tewas, dan ini banyak sedikitnya mengingatkan kepada ambruknya tentara Uni Soviet yang menyerang dan menduduki Afghanistan dahulu.

 

Setelah ambruknya AS, maka Al-Qaida akan menggulingkan rezim-rezim yang dibenci di negeri-negeri Arab dan berdirinya Khalifah Islam dipulihkan. inilah siasat dan impian Al -Qaida. ****

 

You must be logged in to post a comment Login