Jakarta ( Berita ) : Pemerintah Indonesia masih memastikan status kewarganegaraan dari 193 manusia perahu yang mendarat di Sabang, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pada awal Januari 2009.
“Dari temuan fakta tidak ada dokumen yang menjelaskan asal mereka, namun pemerintah akan mengirimkan tim lagi untuk mengklarifikasi sejumlah hal pekan depan,” kata Juru bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah di Jakarta, Jumat [23/01].
Menurut Faiza, oleh karena kendala bahasa maka pemeriksaan terhadap orang-orang tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat guna memastikan kewarganegaraannya.
Namun, lanjut dia, dari wawancara secara acak yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang yang meninggalkan negaranya dengan motif ekonomi. “Kita upayakan agar proses identifikasi ini cepat selesai karena semakin lama mereka di sana maka akan semakin membebani pemerintah daerah,” katanya.
Ia juga mengatakan proses pemulangan 193 orang tersebut juga tidak mudah. Apabila kemudian diputuskan untuk dipulangkan, maka prosesnya akan dikoordinasikan dengan lembaga-lembaga internasional yang berkompetensi mengenai masalah migrasi dan isu perdagangan manusia. “Tapi, kami bisa pastikan kesemuanya dalam kondisi sehat dan berada dalam perawatan,” katanya. Lebih lanjut Faiza mengatakan bahwa Deplu RI telah menghubungi pihak Myanmar dan Bangladeh karena ada dugaan para manusia perahu itu berasal dari kedua negara itu. “Mereka (perwakilan dari kedua negara itu) juga akan melakukan kunjungan kepada para manusia perahu itu setelah pemerintah selesai melakukan pemeriksaan. Namun perlu dipastikan terlebih dahulu apakah mereka berasal dari kedua negara itu,” ujarnya.
Menurut Jubir Deplu, pemerintah telah melakukan rapat interdepartemen pada 15 Januari lalu untuk membahas mengenai para manusia perahu itu. “Ada beberapa rekomendasi yang akan dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan namun kita berusaha mempercepat karena kemampuan pemerintah daerah juga terbatas untuk terus menampung,” jelasnya.
Ratusan WNA tersebut terdampar di perairan Indonesia pada Rabu 7 Januari 2009 sekitar pukul 09.00 WIB, saat ditemukan terapung-apung di laut dalam sebuah perahu tanpa mesin dan tidak memiliki identitas apapun.
Saat ditemukan para WNA itu berada dalam kondisi lemah sehingga memerlukan bantuan pengobatan segera. Saat ini ratusan WNA itu ditempatkan di kompleks Pangkalan TNI AL (Lanal) Sabang, Pulau Weh. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login