Jelang Imlek, Vihara Di Medan Diserbu Pengemis

IMLEK DI YOGYAKARTA

IMLEK : Sejumlah warga Tiong Hoa membakar dupa sebelum meakukan ritual pergantian tahun baru China di Rumah Ibadah Fo Ling Miao Vihara Buddha Prabba Yogyakarta, Minggu (25/1). Seluruh warga Tiong Hoa di dunia merayakan pergantian tahun baru China 2559-2560 yakni tahun Kerbau dengan harapan menjadi manusia yang bekerja keras sehingga mendapatkan kehidupan lebih baik. ( Foto Ant )

Medan ( Berita ) : Sehari menjelang perayaan Imlek, puluhan pengemis dadakan menyerbu berbagai vihara di Medan untuk mendapatkan “angpao” dari pengunjung yang bersembahyang di vihara.

Vihara yang banyak didatangi para pengemis dadakan tersebut adalah Vihara Sahassa Budha di Jalan Dr Wahidin Medan dan Vihara Budhi Suci di Jalan Asia Medan.

“Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang hari raya Imlek, pasti banyak warga keturunan Tionghoa yang membagi-bagikan angpao kepada siapa saja yang mereka temui, termasuk kepada orang-orang miskin seperti kami,” kata Waljinah (56), salah seorang pengemis dadakan yang ditemui ANTARA, Minggu [25/01].

Ia yang mengaku berasal dari Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut, mengatakan bahwa ia dalam dua hari terakhir telah menjalankan aktivitasnya sebagai pengemis.

Dalam sehari ia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata di atas Rp50 ribu dari belas kasihan pengunjung yang bersembahyang di vihara.

Menurut dia, angpao akan semakin banyak dibagi-bagi oleh pengunjung pada puncak perayaan Imlek, yaitu Senin (26/1).

“Besok, pagi-pagi sekali, saya sudah harus sudah ada di sini, kalau tidak bakal kehilangan rezeki karena sebagian besar mereka kan sembahyangnya pagi, “kata ibu yang memiliki enam putra itu, yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai petani.

Hal yang sama juga dikatakan Sumiati (45), warga Dusun Kelambir Lima, Kabupaten Deli Serdang.

Wanita yang sehari-harinya mengaku berjualan sayur itu mengatakan, penghasilan yang didapatnya dari meminta-meminta itu dapat melebihi keuntungannya sebagai pedagang sayur.

“Kalau jualan sayur, paling banyak saya mendapatkan untung Rp25 ribu dalam seharinya. Tapi kalau disini, dalam sehari saya bisa dapat lebih dari itu,” katanya.

Pengamat sosial Universitas Sumatera Utara (USU), Yos Rizal, mengatakan, fenomena menjamurnya pengemis saat menjelang hari besar keagamaan sudah menjadi hal yang lumrah.

Menurut dia, masyarakat yang memberikan uang kepada pengemis itu justru akan mendidik mereka menjadi malas bekerja.

“Kalau masyarakat ingin beramal seharusnya langsung disumbangkan saja ke lembaga-lembaga resmi atau langsung datang ke panti-panti asuhan,”katanya

You must be logged in to post a comment Login