KALAU saya menonton film Amerika mengenai bajak laut alias ‘pirantes’ tempo dulu, biasanya yang tampak sosok lelaki gagah perkasa, pakai kumis melintang, sebelah matanya ditutup kain hitam akibat buta dalam pertempuran, ahli menggunakan pedang anggar dan berada di barisan depan memimpin anak buahnya meloncat ke kapal layar musuh yang hendak ditaklukkan dan dijarah. Lukisan romatis dan stereotip tadi tidak berlaku pada diri dan penampilan bajak laut Somalia abad ke -21. Wartawan Jeffrey Gettlemen dari koran The New York Times menulis bajak laut Somalia pada suatu kali menaiki sebuah kapal dahang melalui lembung kapal. Awak Filipina kapal yang diserang itu mencoba melempar bajak laut yang sedang mendaki badan kapal dengan tomat untuk mencegah mereka naik, tapi tidak berhasil. Baik awak Filipina, maupun pengawal sekuriti yang menyertai dan melindunginya tidak punya senjata dan karena itu lanun Somalia leluasa menguasai kapal yang dijarah.
Para perwira angkatan laut Italia yang berpatroli di perairan Somalia berkata patroli itu membantu dan beberapa kapal dagang yang dikepung oleh bajak laut bisa dibebaskan. ‘Tapi jawaban atas masalah lanun itu ialah mempunyai suatu pemerintah yang kuat di daratan. Itulah hanya satu-satunya jalan buat mengakhiri pembajakan di laut’.
Namun pemerintah yang kuat tidak ditemukan di mana pun juga. Wabah pembajakan di laut itu bukanlah sebuah masalah terpisah atau tersendiri sifaynya. Ia adalah sebuah gejaladari suatu negara yang telah gagal yaitu Somalia. Sejak tahun 1991 negara itu penuh dengan senjata, kumpulan geng-geng, para penjahat (kriminal), dan tidak memiliki sebuah pemerintah yang berfungsi.
Banyak penganalisa berpendapat bahwa keadaan akan menjadi lebih buruk. Tentara Ethiopia yang mendukung dan menegakkan sebuah pemerintah peralihan yang lemah dan tidak populet dari Somalia mengatakan akan mengundurkan diri dalam masa satu bulan, keluar dari Somalia.
Pemerintah peralihan yang terpecah-belah oleh perkelahian internal yang meracun keadaan rupanya berada di tepi jurang keambrukan . Kaum militan Islam dengan kaitan dengan Al Qaeda Osama bin Laden sedang bersiap untuk mengambil alih pemerintahan.
Kelaparan dengan terus menerus merangkak jutaan penduduk. Banyak dari penduduk itu tinggal dalam tenda-tenda terbuat dari plastik, merana sengsara karena sulit bertahna terhadap panasnya matahari atau guyuran hujan.
Para pejabat PBB menghadapi krisis dengan menyeru-kan pertemuan tingkat tinggi di Afrika Timur dan New York untuk menanggulangi masalah pembajakan laut dan kekacauan besar di Somalia.
Beberapa pejabat PBB mendesak agar dikirim pasukan pemeliharaan perdamaian ke Somalia,tapi tiada negeri yang datang menewarkan pasukannya. Para pejabat PBB lain mengusulkan mengejar dan memburu bajak laut di darat dan menyerang kemah-kemah mereka yang diketahui dengan baik tapi hingga sekarang tidak dijamah. Para pemimpin pemerintah peralihan Somalia yang kepingin mendapay sembarang bantuan berkata mereka menyebutnya dengan baik.
‘Ini adalah penyakit kanker dan bertumbuh terus. Kita harus memberantasnya untuk selama-lamanya’ kata Abdi Awelah Jane, Duta besar keliling pemerintah transisi Somalia. Lebih dari seratus kapal telah diserang depan pantai Somalia selama tahun 2008.
Ongkos ekonomi meningkat, tarif asuransi bagi pemilik kapal jadi lebih tinggi, harga PBB meningkat karena rute pelayaran jadi lebih panjang, dan tarif rekening sekuriti privat, belum lagi menyebut pembayaran uang tebusan yang ratusan juta dolar jumlahnya.
Pemerintah Mesir yang kekurangan uang tunai menghadapi kerugian bermilyar-milyar dolar,bila kapla-kapal dari Timur Tengah dan Asia berhenti menggunakan Terusan Suez salah satu penghasil devisa terbesar bagi Mesir dan berlayar sekitar Afrika.
Tapi berakhirnya pembajakan laut bisa merupakan melapetakan ekonomi bagi banyak pemduduk Somalia. Negeri mereka tidak mengekspor apa-apa dewasa ini. Bentuk-bentuk bisnis yang lebih absah telah pada mati.
Seantero klan-klan dan desa-desa di pinggir laut kini hidup dari pembajak di laut. Kaum perempuan memasak roti untuk para lanun, laki-laki dan bocah-bocah menjaga orang-orang yang disandera, yang lain-lain bekerja sebagai pandu-pandu,tukang bedil, montir-montir, akuntan dan pembuat kapal-kapal sekoci, Para pedagang mendapat laba bagus dari pemasokan air minum, bahan bakar dan rokok yang dibutuhkan untuk pelayaran mengarungi lautan samudra.
Pakar-oakar merintis bilang bahwa usaha angkatan laut akan memakam waktu. Luas lautan yang dipatroli adalah ratusan ribu kilometer persegi.
Lalu ada pertanyaan rumit apa yang harus dilakukan dengan bajak laut yang ditangkap. Angkatan Laut India mengumumkan baru-baru ini telah menangkap 23 orang bajak laut, kendati tidak jelas di mana para tersangka itu bakal di tuntut. Para pejabat Inggris menggariskan rencana bagu angkatan laut mereka untuk menangkap lanun-lanun, kemudian menyerahkan mereka ke pangadilan negeri di Kenya.
Tapi Kenneth Randall dekan sekolah Hukum Universitas Alabama berkata; ‘Sembarang negeri bisa menangkap bajak -bajak laut ini dan menuntut mereka dalam negerinya sendiri, di bawah undang-undang domestik yang berlaku. Hukum mengenai pembajakan laut adalah seratus persen jelas,’ kata pakar hukum internasional itu. ***
You must be logged in to post a comment Login