Kadis Kesehatan Medan: RS Herna Bukan Pelayanan Jamkesmas

MEDAN (Berita): Pasca ditahannya pasien Wahyuningsih Pujilestar oleh pihak RS H, dikarenakan tidak sanggup membayar biaya-biaya medis yang dibebankan pihak rumah sakit swasta tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Edwin Effendi Msc, Kamis ]18/06] pagi mengatakan, pasien rumah sakit harus maklum. ‘RS Herna itu bukan pelayanan Jamkesmas atau Medan Sehat. Jika pasien berani ke sana berarti memang sudah siap. Sejauh ini kami hanya bisa mengimbau dengan kebijakan RS Herna dan semua tergantung kebijakan mereka. Yang bersangkutan (pasien) harus maklum,’ ujar Edwin.

Sementara itu di tempat terpisah, Ketua Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Kapersi)  Syahrial R Anas mengatakan, kejadian tersebut menjadi memang polemik. Pasalnya rumah sakit yang dirujuk  punya swasta. Begitupun, Sjahrial tetap mengimbau pihak rumah sakit punya fungsi social tidak hanya komersil.

’Inilah dia, pasien memang haruslah memperhatikan kemampuan waktu pertama kali masuk rumah sakit. Kalau rumah sakit tidak terdaftar sebagai rujukan Jamkesmas atau Medan Sehat kita bisa bantu. Dan rumah sakit juga harus memiliki tugas tetap mengingatkan pasien setiap tiga hari sekali tentang biaya yang harus ditangung, agar jangan membludak dan bingung membayarnya,’ ujarnya.

Untuk menyelesaikan hal ini, pasien dan pihak rumah sakit haruslah membuat kesepatakan yang bisa dijadikan solusi bagi kedua belah pihak. ‘Kalau memang pasien mau mencicil, haruslah dengan iktikad baik dan buatlah kesepakatan dengan rumah sakit. Untuk saat ini kami berharap kesepakatan itu bias terwujud. Nah jika nanti berlarut-larut kami dari Persi bisa menjadi mediasinya, ujarnya Sjahrial R Anas.

Sebelumnya, Wahyuningsih Pujilestari, yang merupakan Alumni LP3I Medan ini hanya bisa terbaring lemah di Ruang Gelatik Rumah Sakit Herna Medan, akibat penyakit yang dideritanya. Gadis berusia 24 tahun yang akrab disapa Ayu ini dan kedua orangtuanya terpaksa ditahan pihak rumah sakit swasta tersebut, karena mereka tidak lagi menyanggupi untuk membayar biaya-biaya medis yang dibebankan pihak rumah sakit.

’Saya mau keluar, saya mau pulang. Saya mau kerja. Kalau di sini terus bagaimana,’ ujar Ayu. Ayu sendiri, kemarin berada di Ruang Teratai, sebelumnya berada di Ruangan Gelatik. Ruang Teratai dikenal sebagai ruang ekonomi. Orang tua Ayu sendiri mengaku sangat ingin keluar dari rumah sakit dengan menyicil biaya pengobatan.  Sedangkan ibunda Ayu hanya bisa pasrah menangis melihat kondisi anaknya yang baga-kan tulang dibalut kulit. Dokter mendiagnosa Ayu terkena TB Usus. Sedangkan keluarga ini mengaku sudah tak punya uang lagi untuk meneruskan pengobatan di rumah sakit tersebut.

Warga Jalan Setia Budi No 9 Tebing Tinggi ini mengaku sudah menghabiskan total rekening Rp70.972.034 sejak Ayu dirawat inap di rumah sakit tersebut 8 April 2009. Itupun masih ditambah belasan juta biaya-biaya lainnya yang harus dibayar cash, seperti tambah darah dan obat-obatan di luar rumah sakit.

Menurut keluarga ini, mereka membawa Ayu ke rumah sakit swasta tersebut hanya berdasarkan rujukan dari rumah sakit di Tebing Tinggi. Salah seorang dokter di situ, kata Wagimin memberikan rujukan ke RS Herna serta membawa mereka memasuki ruang VIP Cendrawasih.

Ibunda Ayu sendiri ingin bisa berjualan di rumah menghasilkan uang untuk melunasi utang. ‘Apapun akan saya lakukan untuk mendapatkan uang tambahan, entah jualan atau apalah,’ katanya. (pan)

You must be logged in to post a comment Login