Debat Capres/Cawapres

Sejumlah pengamat menilai debat antar calon wakil presiden (cawapres) yang diselenggarakan Selasa malam, lebih “hidup” dan santai dibandingkan dengan debat calon presiden sebelumnya yang cenderung lebih kaku. Namun begitu, Direktur Pusat Kajian Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia Sri Budi Eko Wardhani mengatakan, pada debat berikutnya harus bisa lebih menarik dalam mengupas visi dan misi.

Meniru-niru acara debat calon presiden di Amerika tentu saja boleh, dan sah-sah saja, demi memberikan pendidikan politik  bagi masyarakat sekaligus menguji kualitas para kandidatnya. Namun, sudah dua kali debat diselenggarakan hasilnya bisa disebut masih tetap mengecewakan masyarakat (publik). Harapan masyarakat debatnya blak-blakan, sama sekali  tidak terlihat.

‘’Bagaikan siang dengan malam perbedaannya,’’ demikian komentar salah seorang pemirsa televisi di ibukota seusai menyaksikan dua kali debat capres dan cawapres di televisi swasta.

Dia memberi  alasan, sengaja pulang cepat dari tempat kerjanya di Tangerang agar dapat melihat jalannya debat tiga kandidat wapres, Selasa (23/6) malam itu. Sayang, momentum yang ditunggu-tunggu itu berlalu tanpa kesan alias monoton, mengecewakan.

Pertama, formatnya dikemas kaku, seperti sudah direkayasa. Kedua, materinya pun sudah diberitahukan sehingga masing-masing kandidat presiden dan wakil presiden membawa ‘’kopekan’’  atau diberi arahan dari masing-masing tim sukses. Tidak ada kejutan apa pun, semuanya datar. Hal inilah yang mengakibatkan masyarakat  komplin. Mereka  sengaja meluangkan waktunya untuk menonton televisi, tapi akhirnya kecewa berat.

Karakteristik media massa memang berbeda-beda, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk pendalaman isi sudah barang tentu media cetak jagonya sehingga penjabaran visi dan misi capres dan cawapres sebaiknya dipublikasikan di surat kabar dan majalah. Tapi, untuk kecepatan media elektronik dan internet jauh lebih efektif, meskipun tidak mendalam.

Kekecewaan pemirsa TV semakin menjadi-jadi karena acara debat diganggu dengan banyaknya iklan komersial. Jeda iklan mengakibatkan para capres dan cawapres kehilangan konsentrasi, tidak fokus, sehingga saat debat dilanjutnya (pasca iklan) paparan mereka menjadi melebar ke mana-mana, kedalaman isi debat pun menjadi hilang. Antiklimaks!

Debat antarcalon wakil presiden (cawapres) yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan biaya ratusan juta rupiah itu disiarkan sejumlah media televisi bisa disebut masih jauh di bawah standar.

Semula publik berharap  acara itu bisa lebih hidup dan menarik ketimbang debat antarcalon presiden sebelumnya, nyatanya tidak  terbukti, sehingga masih belum memberikan gambaran kepada masyarakat (publik) seputar visi dan misi masing-masing cawapres meskipun masyarakat tahu kedudukan wapres seperti di masa lalu hanya sebagai  ‘’ban serap’’ belaka.

Oleh karena itu, KPU harus profesional dalam mengadakan debat capres dan cawapres dengan melibatkan semua media massa; baik cetak maupun elektronik. Moderator diberi wewenang dan kebebasan untuk melontarkan pertanyaan dan mengejar jawaban lebih detail.

Moderator tidak boleh dikekang agar dapat memancing debat sesungguhnya dan masyarakat mendapatkan banyak informasi seputar kualitas para kandidat. Bukan asal debat-debatan, takut salah, menjaga ‘’image’’ dan batasan-batasan lainnya.=

You must be logged in to post a comment Login