Capres Saling Sindir

Debat Capres Kamis malam berlangsung lebih menarik dan lebih segar. Moderator mampu menghidupkan suasana dan memaksa ketiga  Capres untuk berbeda pendapat, sehingga saling sindir pun terjadi. SBY menyindir Mega dengan ucapan takkan menjual asset Negara,  JK pun tak tersinggung dengan sentilan Megawati. JK sendiri terlihat lebih santai dan blak-blakan selalu ”beda pendapat” dengan SBY dalam kabinet.

Siapa capres pilihan anda? Kalau sudah dapat maka beruntunglah anda, tidak pusing lagi mencarinya. Hal ini mengingat trik dan manuver  yang dipergunakan masing-masing kandidat presiden dan wakil presiden berikut tim suksesnya sudah ngaur, cenderung menghalalkan segala cara, sehingga tidak hanya saling sindir, tetapi juga mengumbar janji, bahkan melakukan praktik ‘money politics’.

Menjelang pilpres yang tinggal  11 hari lagi masyarakat harus cermat mengamati ‘’track record’’ dari masing-masing capres dan cawapres agar tidak salah pilih. Jatuhkan pilihan anda pada pasangan yang berkualitas, punya komitmen kuat membangun bangsa dan negara. Atau kalau ketiga pasangan ternyata memiliki ‘’daftar hitam’’ maka cari dan jatuhkan pilihan anda pada pasangan capres  yang daftar hitamkan paling kecil. Untuk itulah rakyat diharapkan cermat dan jeli untuk menjatuhkan pilihan capres dalam pemilihan presiden mendatang.

Tidak mudah mendapatkan ‘track record’ dari masing-masing capres dan cawapres, apalagi bagi masyarakat awam yang jauh dari kota dan jarang membaca koran, membuka internet. Belum lagimengingat jadwal kampanye yang relatif singkat sehingga kampanye yang dilakukan pun hanya terbatas pada daerah-daerah atau komunitas yang potensial saja. Wajar sekali kalau masih sangat banyak dari rakyat yang belum bisa menentukan pilihannya. Mereka bingung mau pilih siapa.

Saat ini segala cara dilakukan. Main sindir, sudah dilakukan sejak lama, karena masing-masing pasangan calon mengklaim merekalah  yang terbaik,  yang terbersih, yang paling berpihak pada rakyat, meskipun kenyataannya tidak demikian. Banyak yang berlindung di balik topeng demokrasi demi kekuasaan.

Capres Susilo Bambang Yudhoyono misalnya, sempat melontarkan hal-hal yang tidak etis soal bahaya kapitalis rambut hitam. Tentu saja ditujukan kepada Jusuf Kalla. Padahal, JK sudah tidak aktif berbisnis lagi sejak menjabat Wapres. Kalau berbisnis itu dilakukan JK saat mendampingi presiden maka SBY juga harus bertanggung jawab. Sebab, pejabat negara dilarang berbisnis.

Capres Jusuf Kalla juga melakukan sindiran, saat ia  mengatakan bahwa isterinya mengenakan busana muslimah atau jilbab sejak lama, bukan di masa kampanye saja sehingga bukan merupakan “jilbab politis”. Di Medan beredar fotocopi berita yang menyebut istri Boediono beragama Katolik. Sama halnya dengan capres Megawati yang mengkritik BLT (bantuan langsung tunai) hanya membuat rakyat sebagai pengemis.

Harapan kita, rakyat jangan terkecoh dengan trik kampanye negatif yang dijalankan masing-masing pasangan capres dan cawapres. jangan mudah terbujuk rayuan gombal tim sukses yang legal maupun tim sukses bayangan, jangan pula sampai salah pilih, karena akibatnya akan sangat fatal bagi kelangsungan masa depan bangsa kita  ke depan, selama lima tahun rakyat bakal menderita. Pilihlah pasangan capres yang bisa membawa bangsa kita lebih maju dan sejahtera serta berdaulat sehingga beban rakyat bisa semakin ringan. Bukannya semakin berat dan kompleks sehingga tidak memiliki masa depan.=

You must be logged in to post a comment Login