Berperilaku Jujur … Jujur… Jujur, Jangan Nakal Berpolitik Kotor

Rabu 8 Juli 2009 merupakan hari yang paling berharga bagi seluruh warga negara Indonesia yang berhak memilih. Saat itu diundang untuk datang memberikan suara/mencontreng siapa yang bakal jadi pemimpin bangsa ini. Tua-muda, kaya-miskin  sama nilai suaranya.

Tidak ada istilah karena kaya, pemimpin partai dan pejabat tinggi nilai suaranya menjadi bertambah. Yang terpenting adalah yang membuat perkiraan jujur tidak muncul otak kotor membuat akal-akalnya supaya seseorang calon bertambah jumlah suara padanya.

Terlebih tentunya dari partai politik pendukung calon tersebut. Itulah rangkuman pemikiran yang perlu kita sadari, beberapa menit itu menentukan untuk masa depan bangsa dan negara. Ketiganya samaa-sama baik, tapi  satu yang lebih baik.

Masih tahap kampanye sudah muncul otak kotor untuk menjelekkan orang lain. Muncul penilian tidak objektif yang mengatakan pemerintah sekarang kurang maju dan pemerintah mendatang akan kami buat lebih baik lagi.

Jika memang semikian mengapa sekarang saja dibuat  baik sebab dia sendiri termasuk dalam pemerintahan itu. Padahal dalam kesepakatan bersama ketiga calon adalah tidak saling menyerang, tidak saling menjelekkan.

Harus satu tujuan yaitu bagaimana membangun negara ini demi untuk memakmurkan rakyat secara bersama. Jangan seperti selama ini, kemakmuran rakyat itu hanya untuk segelintir orang tertentu. Dalam kata yang kaya tambah kaya yang miskin tetap susah.

Semua pemimpin dari awal sampai sekarang belum ada yang secara nyata tugasnya untuk kemakmuran rakyat bersama. Hanya omongnya untuk bersama, tapi kenyataan untuk mereka, sama seperti halnya pemimpin daerah yang menjadi bupati dan walikota.

Saya selaku rakyat mengusulkan dengan sangat agar semua tim sukses, pemimpin partai serta pendukungnya hendaknya jujur dan tidak mempengaruhi pemilih terlebih  petugas di tempat pemilihan setempat. Biasanya disana ada permainan yakni ketika menghitung suara dan menentukan jumlah pemilih di tempat tersebut.

Saksi pun diharapkan agar jeli memperhatikan ketika penghitungan suara, pengiriman kertas suara. Jangan terjadi seperti di Nias Selatan pada Pemilihan Legislatif masa lalu terpaksa dilakukan pemilihan ulang. Atau di Jawa Timur ketika dilakukan pemilihan gubernur di Madura harus dilakukan pemilihan ulang. Mengapa terjadi demikian? Karena tidak dilaksanakan kejujuran, otak kotor yang bekerja.

Masih begitukah anak bangsa ini, yang beragama, berpendidikan tinggi dan berjabatan tinggi? Untuk apa pendidikan tinggi itu bukankah untuk memperbaiki budi pekerti/moralnya? Pendidikan itu ditaruhnyua di lututnya? ( Marihot Siagian di Glugur Medan  )

You must be logged in to post a comment Login