KISARAN (Berita): Pengelolaan tujuan wisata Arung Jeram yang terdapat di Hulu Sungai Asahan, tepatnya di Desa Tangga Kec. Aek Songsongan Kab. Asahan, dinilai mundur. Penilaian ini diungkapkan oleh Sekretaris Sarana Pariwisata Asahan-Seluruh Indonesia (SPASI) Enterprise , Nazli, Senin [29/06].
Menurut Nazli, penilaian ini didasarkan dari pengamatan perkembangan wisata Arung Jeram di Asahan, terutama soal event-event, di antaranya festival Arung Jeram yang dilaksanakan pasca tahun 2003, serta pengelolaan lokasi atau kelengkapan sarana akomodasi.
Nazli yang pernah aktif menyukseskan even AWF (Asahan Whitewater Festival) Tahun 2003 lalu mengatakan, seharusnya saat ini Asahan sudah menjadi Maskot untuk Brand Arung Jeram di Indonesia, sehingga, saat orang ingat Arung Jeram maka yang muncul dibenaknya adalah Kabupaten Asahan.
“Hal itu pernah kita rintis sedemikian rupa dengan menata grand desainnya untuk dapat mendatangkan PAD yang besar untuk Asahan. Namun hingga kini kurang mendapat sambutan dari pihak pemerintahan setempat,” kata pria yang pernah mewakili SPASI Enterprise mengikuti North Sumatra International Travel Fair (NSITF) 2004 di Medan.
Dia menambahkan, kurangnya resfon pemerintah atas kerjasama yang pernah dirintis dengan International Canoe Federation (ICF) untuk Arung Jeram jenis Kayak dan International Rafting Federation (IRF) untuk Arung Jeram jenis Perahu Karet kembali mentah.
“Dahulu festival kita bertaraf internasional dengan menghadirkan atlit dari negara-negara besar seperti Australia , Selandia Baru, Amerika, Italia, Jepang dan Malaysia . Bahkan ICF dan IRF pernah menawarkan untuk menyiapkan tim juri. Namun kini festival arung jeram yang ada telah mundur menjadi festival local,” ungkap Nazli dengan nada kecewa.
Terkait penyediaan sarana akomodasi berupa pondok-pondok wisata (home stay), menurut Nazli, hal ini juga sudah dirintis sejak tahun 2001 oleh Pemkab Asahan. Tapi karena terbengkalai akhirnya rusak dan perlu perbaikan kembali pada Tahun 2007-2008.
“Jika dari awal kita konsisten, seharusnya dana pembuatan home stay tidak perlu berulang-ulang dianggarkan, sehingga yang seharusnya dilakukan saat ini adalah tahap pengembangan. Yakni, dengan memberdayakan rumah-tumah warga di sekitar lokasi arung jeram,” usul Nazli.
Terkait persoalan yang sama, Bupati Asahan Drs Risuddin pada rapat di gedung dewan, Senin (29/6) menyebutkan, Home Stay yang ada saat ini adalah satu-satunya sarana penginapan di objek wisata Desa Tangga. Untuk itu perlu dilakukan perawatan secara rutin.
“Mengenai tanah lokasi Home Stay, statusnya adalah pinjam pakai dari warga, dengan perjanjian apabila dikelola secara komersil maka akan dilakukan sistem bagi hasil antara Pemkab Asahan dengan pemilik tanah,” papar Bupati Asahan dalam siding paripurna itu. (rud)
You must be logged in to post a comment Login