Semua Tim Sukses Wajib Menahan Diri

Follow up selebaran gelap berita seputar istri Boediono beragama Katolik sudah di tangan panwaslu dan polisi. Kedua lembaga itu sepakat mengusutnya, namun kelihatannya hanya sebatas orang yang memfotokopi selebaran saja. Sedangkan ke atasnya, siapa yang menyuruh dan siapa aktor intelektualnya, masih belum tersentuh hukum.

Hemat kita, memfotokopi berita atau tulisan di media massa seperti surat kabar tentu saja tidak salah. Tidak bisa dituntut secara hukum. Yang bisa dituntut bila beritanya tidak benar atau fitnah, sehingga pihak yang paling utama bertanggung jawab adalah media tersebut, maka penanggung jawabnya harus diperiksa. Lebih lanjut, pihak berwajib bisa memanggil narasumber tulisan itu untuk meminta bukti kebenaran statementnya yang mengejutkan itu.

Gugat-menggugat antara tim SBY – Boediono dengan tim sukses JK – Win diperkirakan takkan menyelesaikan masalah. Apalagi, masing-masing tim sukses rajin menyerang lawan-lawannya. Pasangan SBY – Boediono disebut-sebut paling banyak menyerang dan juga diserang kampanye negatif.

Kini pemilu pilpres tinggal delapan hari lagi. Wajar kalau suhu politik semakin panas. Kalau awalnya para capres dan cawapres plus tim suksesnya baru saling sindir, kini sudah meningkat saling serang, dengan melancarkan serangan-serangan tajam, termasuk  ‘’black campaign’’ yang semestinya  tidak dilakukan.

Kasus di Asrama Haji Medan memungkinkan masuk dalam kategori ‘’black campaign’’ karena tidak benar kalau istri calon wapres Boediono beragama Katolik.  Terlepas kurang mendalami syariat Islam, tidak mengenakan jilbab, misalnya, namun tidak berarti boleh menyatakan seseorang itu non-Muslim. Jadi,  sudah tepat kalau Panwaslu Kota Medan memanggil tim pemenangan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) terkait dugaan praktik kampanye hitam pada saat kampanye pasangan itu berlangsung di Asrama Haji Medan, Rabu (24/6) lalu. Bukan berarti, kasus tersebut melibatkan sang capres dan cawapres atau tim suksesnya. Bisa juga disengaja pihak lain untuk memperkeruh situasi sehingga menimbulkan hal-hal tak diingini nantinya.

Justru itu, pihak capres dan cawapres SBY – Boediono maupun tim suksesnya jangan sampai terpancing. Serahkan permasalahannya kepada pihak terkait. Dan Panwaslu Kota Medan harus cepat menindaklanjuti kasusnya sehingga terungkap siapa pelakunya sebenarnya untuk dikenakan sanksi hukuman sebagaimana ketentuan perundangan yang berlaku.

Sejalan dengan meningkatnya rating atau hasil survei pasangan JK – Win saling berlomba untuk memperebutkan posisi kedua dengan pasangan Megawati – Prabowo (Mega – Pro) maka hari-hari selanjutnya dipastikan suhu politik semakin memanas.

Baik pasangan Mega – Pro maupun JK – Win mengupayakan Pilpres dua putaran. Oleh karena itu berbagai cara mereka lakukan untuk meningkatkan popularitasnya di mata masyarakat. Terkesan mereka sudah ‘’berkoalisi’’ untuk menghempang  tingginya tingkat elektabilitas pasangan SBY – Boediono yang masih di kisaran 50 persen. Jika Pilpres dua putaran maka suhu politik diperkirakan akan semakin mendidih sehingga tidak tertutup kemungkinan SBY selaku ‘’incumbent’’ tergelincir nantinya.

Meskipun suhu politik semakin panas dan menjelang akhir kampanye yang tinggal 4 hari lagi diperkirakan menjadi klimaks saling serang di antara pasangan capres dan tim suksesnya.

Mari kita hindari kampanye yang menjelek-jelekkan  selama tidak memiliki bukti kuat, apalagi dikaitkan dengan isu SARA yang cukup sensitif memancing emosi masyarakat agar Pilpres yang sudah di ambang pintu dapat berjalan tertib, aman, dan lancar, menghasilkan pemimpin berkualitas, bermoral, mau bekerja keras, jujur dalam memperjuangkan aspirasi rakyat kecil yang selama ini masih sangat kurang diperhatikan.=

You must be logged in to post a comment Login