Keterwakilan WNI Di Lembaga Internasional Rendah

Jakarta ( Berita ) :  Keterwakilan warga Indonesia dalam lembaga-lembaga internasional sangat rendah, padahal cukup banyak kuota bagi warga Indonesia untuk mengisi jabatan di lembaga-lembaga tersebut.

“Kita sangat ‘under-representative’, padahal belasan surat dari  lembaga-lembaga internasional seperti UNESCO yang memberi kesempatan bagi warga Indonesia untuk mengisi jabatan di sana. Belum lagi lembaga lainnya seperti WHO, FAO, dan lain-lain,” kata Dirjen Dikti Fasli Jalal di Jakarta, Selasa [30/06].

Menurut dia, penyebabnya bukan sekadar ketidakmampuan dan kekurangpengetahuan, tetapi juga akibat peraturan kepegawaian yang belum mendukung warganya ikut berkiprah secara internasional.

“Saya lihat kalau kita berharap dari PNS (pegawai negeri sipil-red) sulit, karena terbentur pada cara bagaimana seseorang harus keluar dan kemudian kembali ke tanah air,” katanya.

Kiprah internasional sejauh ini, menurut dia, tidak dianggap sebagai sesuatu yang berdampak pada kenaikan karir dan ketika pulang mereka belum tentu bisa kembali ke jabatan struktural yang telah diraih sebelumnya, dan lebih parah lagi apakah masih diterima sebagai PNS.

Karena itu, ujarnya, perlu ada semacam strategi nasional untuk memfasilitasi orang-orang Indonesia yang berkemampuan dalam berkiprah secara internasional dari segi peraturan dan dari fasilitas lainnya.

Selain itu, katanya, perlu ada wadah di tiap Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri yang bisa memecahkan berbagai permasalahan orang Indonesia di perantauan sehingga mereka selalu terjamin dari rasa cemas dan takut.

Sementara itu Menristek Kusmayanto Kadiman mengatakan, orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri seringkali harus menghadapi pandangan sempit bahwa mereka tidak memiliki nasionalisme.

“Padahal justru mereka ini harus didukung. Keberadaan mereka di sana justru harus dimanfaatkan, mereka bisa dijadikan ‘ambassador’ di negara-negara tersebut, membuka jaringan bagi WNI lainnya,” katanya.

Ia juga berpesan kepada para pemuda agar mengembangkan nilai-nilai merantau serta bertekad menjelajahi dunia di kala masih muda.

“Jepang, China, India menjadi hebat karena banyak dari masyarakat mereka merantau ke luar negeri dan berkarir sampai puncak, sementara orang Indonesia belum tiba di landasan saja sudah ingin pulang,” katanya.

Menurut Kusmayanto, jangan lagi orang Indonesia berkiprah di World Bank dan ADB (Asian Development Bank) hanya karena jatah kursi yang diberikan  sebagai pengutang terbesar. ( ant )

You must be logged in to post a comment Login