Medan Semakin Tua Semakin Tak Nyaman

Ini Medan, Bung! Itulah istilah khas buat komunitas warga Kota Medan yang kini sudah berusia 419 tahun. Kota ini sangat tua, meskipun ketuaannya masih diperdebatkan banyak pihak khususnya ahli sejarah.

Kalau Medan sudah berusia 400 tahun lebih, berarti  harus ada peninggalannya. Tapi, sejarah belum melihat bukti otentik adanya peninggalan sejarah yang begitu lama, kecuali peninggalan Belanda yang usianya berkisar seratusan tahun saja. Jangan karena kesannya  biar hebat sebagai kota tua maka dibuatlah hari jadi kota Medan yang begitu lama. Tak pernah jelas apa kriterianya.

Pro kontra hari jadi kota Medan kita biarkan berlalu, namun perkembangan kota Medan yang semakin tidak menentu pantas kita soroti. Kalau tidak perkembangan kota Medan bakal semakin semrawut, jorok, tak nyaman lagi bagi 2,5 juta warga kotanya, sejalan dengan semakin menurun/berkurangnya sarana dan prasarana perkotaannya saat ini.

Banyak keluhan warga, kira menjadi perhatian elite politik dan pemerintahan kota Medan. Pemerintah Kota (Pemkot) Medan sepertinya mengabaikan kebersihan lingkungan, terbukti tumpukan sampah masih berserakan di mana-mana, ungkap Ketua Dewan Pimpinan Kota Masyarakat Pancasila Indonesia (DPK MPI) Medan.

Selain sampah berserakan di mana-mana, masalah lalu lintas semakin gawat dengan tingkat kemacetan semakin parah akibat pertambahan jumlah kendaraan tak sebanding dengan panjang jalan. Pembangunan kota Medan pun tak jelas lagi master plan-nya. Semuanya ingin membangun di tengah kota. Padahal, seharusnya Pemko membatasi pembangunan di pusat kota, tetapi hanya memberi izin di pinggiran kota, sehingga terjadi pemerataan pembangunan.

Selain itu, sudah saatnya untuk mengingatkan kembali masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam terutama ekosistem air sebagai salah satu sumber kehidupan. Soalnya tingkat kerusakan ekosistem air terutama sungai  cukup parah.

Tingkat kerusakan ekosistem air secara kasat mata bisa dilihat dari keberadaan populasi ikan di dalamnya, karena merupakan salah satu indikator untuk melihat kualitas lingkungan air, yakni semakin baik kualitas air, populasi ikan akan berkembang.

Hemat kita, peringatan HUT sangat baik bila kita dapat memaknainya dengan benar. Artinya, bukan perayaan yang seremonial yang diperlukan saat ini tetapi bagaimana semua pihak  dapat melihat kenyataan dan melakukan evaluasi secara benar sehingga ke depan kita memperoleh bahan positif untuk meningkatkan kinerja masing-masing. Mengkaji kekurangan itu lebih baik ketimbang pamer keberhasilan.

HUT kota Medan dalam dua tahun belakangan ini diwarnai dengan keprihatinan bagi 2,5 juta warganya, mengapa? Hal ini disebabkan dua mantan pejabatnya  -Abdillah dan Ramli– sama-sama dalam tahanan  karena  terlibat kasus korupsi. Keprihatinan warga kota Medan di HUT ke-419 tahun ini terlihat jelas dengan minimnya kegiatan yang melibatkan warga di kota maupun luar kota.

Dulu semasa dijabat Abdillah, di berbagai sudut kota Medan  berlangsung perlombaan, juga ada pesta rakyat, kembang api, doa bersama dll. Namun saat ini hampir tidak ditemukan lagi. Semua ikut prihatin dengan situasi dan perkembangan Medan saat ini. Pembangunan bisa dibilang mandeg, tidak lagi pesat, jalannya roda pemerintahan juga sepertinya tersendat sehingga pelayanan kepada masyarakat juga tidak mengalir sebagaimana diharapkan. Kota semakin semrawut, kebersihan semakin parah, kota semakin gersang, hujan sebentar kota Medan sebagian besar sudah tergenang banjir. Kontras dengan perayaan sebelum KPK menangkap Abdillah dan Ramli.

Ke depan, kita harus mau introspeksi diri. Mau membenahi segala kekurangan dan bekerja keras membangun kota Medan yang beradab, tertib, aman, dan memberi kenyamanan bagi warganya. Oleh karena itu, diperlukan kerja keras dari semua elemen masyarakat untuk membenahi kota yang kondisinya semakin tak nyaman.=

You must be logged in to post a comment Login