Sekolah Menengah Negeri IV dan SD Negeri di samping sekolah itu telah ditutup pembelinya yang mengakibatkan siswa dari kedua sekolah itu tak dapat belajar sejak masuk sekolah 13 Juli 2009.
Setiap hari terjadi unjuk rasa sebagai penolakan dari siswa ,guru,dewan guru dan orang tua murid. Polisi berjaga-jaga di lokasi itu dan sudah ada terpampang plakat dilarang masuk. Demikian berita di surat kabar terbitan Medan.
P.Siantar sering disebut kota pendidikan namun belum ada perguruan tinggi negeri . Memang pada masa dulu P.Siantar satu kota pendidikan penting di S.Utara, karena banyak sekolah memengah atas negeri dan swasta.
Dekat dengan T.Tinggi dan Tapanuli. Termasuk sekolah guru yang temasuk bagus yakni Normal School yang kemudian mejjadi Sekolah Guru A (SGA). Sekolah ini normor dua setelah Bandung, selain sarana olahraga, perumahan guru dan empat arsama siswa yakni dua untuk putra dan dua putri. Setelah SGA berubah menjadi SPG sekolah ini tetap maju dalam dunia pendidikan.
Hapus SPG berubahlah gedung itu jadi SMA sementara SD yang menjadi latihan sekolah guru tetap menjadi SD negeri. Kabarnya SM 4 terrmasuk sekolah yang maju di daerah itu. Persoalannya mengapa sekolah itu dijual dan dilokasi akan dibangun hotel dan gedung lainnya? Ada apa dengan Walikota P,Siantar ?
Persoalan gedung dan lokasi tugar guling sudah pernah terjadi tapi gagal, karena memang pengalihan itu tidak tepat sasaran yakni RSU P.Saintar hendak dipindahkan ke lokasi yang penduduknya masih jarang dan jauh dari kota. Demikian juga sekolah ini, tepat pilihan Belanda membuat lokasi itu tempat mendidik genarasi muda. Dekat ke pemukiman yang ramai dan arus lalulintas lancar karena jalan ke tempat itu luas.
Seperti kata orang tua murid, jika pindah ke tempat yang dihunjuk harus dua kali sambung kenderaan. Dalam siaran di TV nampak jelas bagaimana kekesalah murid, orang tuaa dan guru akibat permainan Walikota dengan pengembang itu. Apa walikota tidak sudi memajukan anak bangsa yang tinggal di P.Siatar/Sinalungun?
Saya selaku rakyat mengusulkan kepada Gubernur Sumut terlebih Pemerintah Pusat, agar meninjau kembali tukar guling SMA IV dan gedung SD di sampaingnya. Ingat sejarah gedung sekolah itu, jika memungkinkan lokasi itu dibuat sekolah percontohan di Sumut Paling tidak di Simalungun, sehingga jika sudah tamat dari sekolah itu sudah mampu bekerja.
Pendidikan moralitas, sangat perlu ditingkatkan sehingga, nampak jelas di masyarakat dia tamat dari SMA Negeri IV P.Siantar. Tamatan SGA dari sana pun banyak yang jadi orang maju dan terpercaya, gurunya dulu umumnya menjadi kepala sekolah ke tempat lain. Bagaimana pak SBY apakah model demikian ini memajukan pendidikan atau memang meruntuhkannya ? ( Marihot Siagian di Glugur Medan )
Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Footer1 Widget Zone
Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Footer2 Widget Zone
Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Footer1 Widget Zone
You must be logged in to post a comment Login