Komisi Pemilihan Umum(KPU) secara resmi telah mengunumkan hasil Pilpres/wapres Sabtu 25 Juli 2009. Pemenang adalah Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono dengan perolehan suara 60,80 persen dan dengan demikian tidak ada lagi putaran kedua.
Dua kelompok yang kalah katanya akan melakukan gugatan kepada MK terjadinya beberapa kecurangan dalam pemilihan itu. Kata Ketua KPU tidak ada pemilihan ulang Demikian berita di surat kabar terbitan Medan.
Sebelum dilaksanakan kampanye dilakukan pertemuan kesepakatan sesama tiga peserta Pilpres/wapres yang berisikan Pilpres dakan berjalan aman dan damai. Rakyat memegang kesepakatan itu dan memang itulah yang lebih diutamakan rakyat yakni tidak terjadi kericuhan.
Tentu demikian juga dipegang yang mengucapkan kesepakatan itu. Semoga demikian adanya damai dan tidak ada yang menyeret rakyat kearah pertikaian yang membawa konplik. Yang mengadu jangan emosional. Kalah dan menang adalah dua kata yang harus diterima. Menang gembira, kalah merengut
Penyelenggaran Pemilihan Umum di Indonesia sudah diserahkan kepada KPU. Jadi tidak lagi seperti sebelum reformasi Pemilu itu dilaksanakan pemerintah. Jadi sekarang lebih independen namun bagaimana pun hati memihak kepada satu dari yang akan dipilih. Tidak mungkin tidak memilih.
Jika tidak memilih akan jadi Golput. Memilih ketiga peserta tentu akan batal pula. Memang disitulah kebebasan berpikir dari jajaran KPU dan penyelenggara lainnya, yakni ketika bertugas tidak berpihak, tapi ketika mencontreng tentu membuat pilihannya.
Kepada siapa pilihan itu tentu pula tidak ada suara dari atasan harus pilihan “A”. Demikian juga dengan pegawai negeri dan perusahaan milik negara, seperti masa lalu. Yang membisikkan pada hati adalah pikiran, lihat orangnya.
Secara umum boleh dikata masih ada kekurangan petugas KPU, di pusat dan di daerah. Kurang gesit, sama dengan kekurangan Bawaslu. Karena orang Indonesia selalu berkata, manusia ada kekurangannya.
Kata sebagian orang jika masih makan nasi, begitulah mereka. Sama halnya belakangan sudah luntur kepercayaan pada orang lain, karena memang kejujuran sudah luntur karena akal-akal tidak sehat
Saya selaku rakyat meminta dengan hormat, temanku jangan mau siajak berkompromi untuk bergabung membuat pernyataan protes. Karena pertandingan politik untuk memlih pemimpinnya sudah usai dan sudah ditetapkan dan diumumkan pemenangnya, tidak ada lagi protes-protesan.
Jika yang kalah itu menang apa suka diprotes yang kalah? Masa sekarang ini rakyat sudah semakin matang berpikir, siapa yang banyak protes di negara ini, tandanya tidak ingin pembangunan lancar dan tepat waktu.
Memang yang kurang berbuat baik itu sering lebih banyak memprotes kekurangan yang bekerja. Rakyat akan semakin jauh. dari orang yang ribut karena kalah. Terima saja kekalahannya, tapi berupayalah dengan baik agar tahun mendatang dicintai rakyat.
Tidak ada istilah begitu muncul langsung juara. Jika ada yang demikian, mereka ini sudah berbuat sembunyi-sembunyi di hadapan rakyat. Suaranya sedikit,perbuatan baiknya yang banyak. Istilah populer, banyak bekerja untuk kebaikan, sedikit bicara. ( Marihot Siagian di Glugur Medan )
Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Footer1 Widget Zone
Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Footer2 Widget Zone
Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Footer1 Widget Zone
You must be logged in to post a comment Login