Denpasar ( Berita ) : Warga di Bali tidak senang dengan sikap Malaysia yang mengklaim tari Pendet sebagai milik negeri jiran tersebut, setelah sebelumnya sikap yang sama juga disampaikan kalangan seniman.
“Dari mana asal-usulnya kok Malaysia bisa mengatakan itu milik budayanya? Melayu itu tetap melayu, tidak ada kaitan dengan bentuk tarian seperti tari Pendet. Dari kecil saya sudah belajar tari dan tari Pendet pasti yang pertama diajarkan,” kata Komang Sumaryani, warga Desa Sempidi, Kabupaten Badung, Minggu [23/08] .
Ia menyatakan, klaim Malaysia atas tari Pendet itu sudah menjadi pembicaraan di banjarnya dan banyak keberatan dilontarkan warga terkait masalah itu. “Biarpun pemerintah tidak mengurus hak paten budaya kita, Malaysia atau siapapun tidak boleh mengaku-aku memiliki satu budaya negara orang. Istilahnya, biarpun ada emas di halaman tetangga, tetap kita tidak boleh mencuri emas itu walaupun pemiliknya cuma menggeletakkan emas itu di depan pintu rumahnya,” katanya.
Perempuan usia 35 tahun yang pernah mengajar tari kepada anak-anak pada masa mudanya itu mengaku sangat kesal terhadap aksi sepihak Malaysia itu. Dia merasa sangat dilangkahi oleh negara tetangga itu.
“Belajar tari Bali itu tidak mudah, saya saja dari umur lima tahun diajari tari oleh nenek saya sampai sekarang masih menari kalau ada upacara agama. Malaysia itu mesti dikasih tahu betul-betul bagaimana menghargai tetangganya. Katanya sama-sama negara ASEAN dan bersaudara, tapi kok kerjanya mengambili miliknya orang terus?,” katanya.
Beberapa hari lalu, guru besar Institus Seni Indonesia Denpasar, Prof I Wayan Dibia, yang juga seniman karawitan dan tari tradisional Bali, memimpin protes keras kalangan seniman Bali kepada pemerintah Malaysia, yang disampaikan kepada DPRD Bali.
“Pemerintah kita harus dapat mempertahankan produk seni budaya yang ada untuk didata dan didaftarkan kepada lembaga internasional yang mengurusi hak kekayaan budaya satu bangsa. Ini agar kekayaan kita tidak diklaim, diambil oleh negara tetangga lagi,” katanya.
Malaysia memang mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa di atas tekanan keras pemerintahan mereka atas khazanah demokratisasi negara kesultanan itu.
Namun Indonesia bukan tidak menyumbang besar dalam capaian perekonomian negara tetangga itu, karena dalam praktik pembangunan fisik, pekerja-pekerja Indonesia banyak memeras keringat di negara itu. Menara Kembar Petronas yang kini menjadi ikon Malaysia, sebagai misal, dibangun secara fisik oleh para pekerja Indonesia.
Walaupun bangunan itu mendapat sentuhan langsung tangan-tangan orang Indonesia, tidak pernah ada klaim sedikitpun dari warga, organisasi massa, atau kelompok masyarakat, apalagi dari pemerintah Indonesia bahwa itu adalah milik Indonesia.
Malaysia sejak beberapa waktu lalu memunculkan iklan pariwisata mereka bermotto “Truly Asia” di beberapa jaringan televisi internasional dengan memakai ikon seni budaya Indonesia.
Di antara cuplikan adegan tayangan yang juga diangkat di jaringan National Geographic Channel itu adalah seorang wanita berpakaian adat Bali, sedang menarikan tarian Pendet.
Hal seperti ini telah dilakukan Malaysia berkali-kali. Selain tari Pendet, batik motif khas Indonesia dengan berbagai kembangannya juga diakui sebagai milik mereka, seperti juga lagu “Rasa Sayange” dan senjata pusaka keris.
Yang paling terkenal dan menimbulkan penentangan keras dari masyarakat adalah saat Reog Ponorogo, diakui sebagai milik mereka semata. Di Jawa Timur, masyarakat setempat berdemonstrasi soal itu, dan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta juga mendapat kecaman keras masyarakat.
Salah seorang budayawan Malaysia dalam satu penayangan di jaringan televisi internasional berbahasa Inggris, menyatakan, sebagai satu kesatuan rumpun budaya Melayu, maka hasil produk budaya di negara tetangga pasti tidak terlepas dari pengaruh budaya Melayu yang berinduk di jazirah Malaka.
Semata-mata atas dasar rasionalitas seperti itulah agaknya Malaysia merasa boleh mengklaim dan mengaku memiliki sah atas kekayaan budaya bangsa di lingkungan ASEAN, dan Indonesia telah berkali-kali mengalami sikap tidak bersahabat seperti itu dari mereka. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login