IzHarry Agusjaya Moenzir

Teruna Jasa Said

THE LONE RANGER…..!

Irsan Arafat Hasibuan

need fren to kill the monster bang? im

the  red ….. wkwkwkwkwk

Bobby Tufte Said that’s me!

IzHarry Agusjaya Moenzir

Siapa yg jadi Tonto, Un? Dan siapa pulak yg jadi Silver ?

Wah, itu pertanyaan atau ajakan, Un ?

Nantilah, kita bereskan dulu halaman FB@BS yg digarap Hendrik itu, baru kita ‘fight’..!

IzHarry Agusjaya Moenzir

REMINISCENCE OF THE DAYS: Kebersamaan dan Kesetiaan

Terseok-seok dia menyusuri jalan. Badan bungkuk melengkung nyaris membuat kepalanya mencium tempurung lutut kanan. Rambutnya gimbal segimbal-gimbalnya, karena sudah bercampur kotoron, tanah, segala jenis kutu dan tumo. Busananya sangat tak pantas disebut pakaian. Tubuh berdaki karena tak pernah mandi, wajah mendelik jika bicara, membuat dia jadi imitasi terdekat Quasimodo, si Bungkuk dari Notre Dame.

Namun kegagahan masih membayangi. Di belakang pria tengah usia itu, berjalan beriringan keluarganya, seorang wanita bule dengan dua anak perempuan yang masih kecil. Mereka berpakaian lusuh, mirip gypsy, tetapi kulit mereka tidak kusam, karena pastilah berbasuh setiap hari. Bola mata mereka coklat bening, agak kuyu tetapi tak pernah kehilangan cahaya.

Tidak banyak yang tau siapa laki-laki itu. Orang-orang pernah berbisik mengatakan, dia bernama Anwar Nasution. Aku tak pasti. Konon, pemuda gagah dari Sipirok ini adalah pelaut ulung. Dia melanglang buana, menantang ombak dan gelombang. Dialah yang berkelana dengan suara lantang menghardik badai dan menampar ombak besar di lima samudra. Dialah yang menyusuri dermaga-dermaga benua Eropa, tak menyerah pada takdir, tak angkat tangan terhadap nasib. Dia pulalah yang menikahi wanita anggun dari Eropa, istri yang memberinya dua anak berambut pirang, berhidung mancung.

Namun, petaka memang tak selamanya bisa dihindarkan. Tiang kapal patah dan menimpa tubuhnya yang tegap. Diapun lunglai, terjerembab setengah mati, namun masih mampu bertahan dengan tubuh remuk dan pikiran kacau. Kecacatan membuat hidupnya berbalik 180 derajat, tak lagi bisa bekerja sebagai kelasi. Menganggur! Tak punya mata pencaharian! Kiamat pun jadi dekat dengan kepala.

Tapi keluarga Anwar tetap survive. Mereka bertahan dengan menyusuri kota Medan. Terseok-seok bersama, menantang dunia bersama. Rumah tiada, harta tak punya. Tidur beralas tikar di sela-sela emperan toko. Mereka tak pernah menengadah telapak meminta-minta, hanya menerima jika disodorkan. Mereka menggelandang trotoar demi trotoar dan terowongan, berbalut buntalan kain-kain gendongan.

Di mana mereka sekarang? Kota Medan sudah lama tak melihat mereka. Anwar mungkin sudah tiada, tetapi ini hari keluarga itu berkelebat dalam lintas pikirku. Mereka ternyata bukan kotoran, meski kehidupan selalu berhubungan dengan sampah. Keluarga Anwar adalah harum mawar penghias kota Medan, potret jelita ibukota Sumatera Utara, karena mereka memiliki hal yang jarang kita miliki, suatu nan bernama: kebersamaan & kesetiaan.

Kebersamaan keluarga dalam menjalani susah seperti menikmati kesenangan, adalah fenomena. Kesetiaan keluarga mendampingi suami dan ayah dalam segala kondisi, sungguh sesuatu yang sangat luar biasa. Sesuatu yang langka, tidak selalu terjadi di zaman ini.

Syahrir Soekardi

ikes this.

Mula Harahap

Bravo, Bang. Saya rasa pasti akan menarik sekali kalau ada yang bisa menelusuri kisah Bung Nasution itu. Ketika saya masih kanak-kanak, saya pun sangat terkesan dengan sosok beliau, dan beberapa sosok lainnya seperti yang ada dalam tulisan                              ini: http://mulaharahap.wordpress.com/ 2008/06/03/sambar-gledek-aceh-  pungo-dan-panggabean-gila agama/

IzHarry Agusjaya Moenzir

Barusan kuketen Blog kau, rupanya ingatan kita sering hinggap ke masalah yg sama. Namanya juga ‘anak Medan’ gitu loh… (eh, gitu bah!)

Foeza Hutabarat

Abangda Izh, aku sangat-sangat terima kasih di tag note keluarga       pengelana kota Medan ini. Sekian tahun silam sosok mereka sering menyelinap menjelang tidur malam.             Kemana mereka sekarang {ternyata sang pelaut itu bernama Anwar nst} yg mewarnai Medan kita bung!

Keluarga itu masuk ke dalam kenangan orang-orang medan. Masih kuingat, siang   kemarau kota…, mereka menyeberang            dari Titi Gantung, menuju jalan kesawan, menyusuri trotoar, melintasi restoran Tip Top tempat abangda izh berleha-leha dengan tangan menjepit novel-novel bule. Ya di mana keluarga itu kini? Setidaknya, anak-anaknya, ada di mana? Kini sosok-sosok itu kembali jelas bertayang di benakku!

Zahmar Effendi

Alamak…..teringat lagi masa idulfitri di Medan semasa kecil yg salah satu      tujuan merayakannya adalah ke kolam srideli….dan klo pulang sekolah dr hang tuah kadang berpapasan dg ‘keluarga bule’ tu n si Panggabean di jalan Pemuda……Ahh….tak mungkin       kembali…!

Syarief Achmadsyah Lubis

@ Harry…Kalu sdh tua memang     begitu…. bungkuk

IzHarry Agusjaya Moenzir

Foeza, agak miris, pernah kudengar dari kawan, salah satu anaknya yg perempuan itu jadi hostess di Tropicana. Tapi itu sudah lama sekali. Mudah2an pramuria yg baik, mencari uang HALAL untuk menghidupi keluarga ya! Tapi kalau Pak Anwar kurasa sudah jiun dia. Sudah tua kali pun. Aku dulu memang sering memperhatikan mereka kalau lewat dan duduk di emperan dekat Tip Top Markotop.Zahmar, menurutku ini bunga2 setiap kota. Di Kairo ada yg begitu?

Achmad, ada juga yg tidak bungkuk, tapi sudah jiun. He he he. Eh, kalau orang bungkuk tidurnya bagaimana, ya?

Lily C Tampubolon

Kalau begitu kisahnya, kenapa tidak ada hati yang tergerak untuk membantunya? Paling tidak keluarga Nasution lah (kalau memang marganya Nasution). Apa fungsi Dinas Sosial dulu, atau belum ada pada masa itu?      Aku masih kicik kali waktu itu tapi sering melihat mereka melintas di depan sekolah St Joseph

IzHarry Agusjaya Moenzir

Apakah ada yg mau bersusah payah menelusuri kembali jejak mereka? Ly, aku sangsi. Tangan tak sampai. Cuma pikiran saja yg kadang2 hinggap, itupun tidak setahun sekali. Merenungi kisah mereka, itu sudah bisa jadi pelajaran. Kita2 ini yg relatif lebih beruntung dari mereka, kok susah memelihara kebersamaan & kesetiaan, ya?

Lily C Tampubolon

Dengan alasan atau pembenaran akan     ‘kenyamanan’ yang membuat kita tidak bisa memeliharanya. terlalu banyak godaan pada masa sekarang, yang dengan gampangnya membuat orang berpaling.

IzHarry Agusjaya Moenzir

Bersayap bo…………

Syarifudin Dalimunthe

Aku sering melihat di di kedai kopi,didepan bioskop Cathay dekat      sentral pasar. Kadang hatiku trenyuh,kalo meolihat Anwar menyudut tangan anaknya dengan api rokok. Tapi mereka memaggn bukan tipe             orang yg minta dikasihani. Mereka benar benar ingin membuktikan,apa itu cinta.

IzHarry Agusjaya Moenzir

Dan ternyata masyarakat tidak peduli. Termasuk kita, ya Bang!

Syarifudin Dalimunthe

Betul itu,malah sebagian masyarakat Medan menganggap mereka     gelandangan yg gak perlu di perhatiin. Termasuk Dinas sosial dan Pemda Medan,gak pernah peduli.

Iwan Lubis

Kalaulah waktu diputar mundur, duduk       di medan walk sekarang, menatap kekiri arah Kesawan dibawah Lonsum si pengembara itu (Anwar Nst) menggaruki nasi sebungkus dengan             keluarganya. Lalu di depan sana    dekat Lap. Banteng,

kadang terlihat Panggabean (wkt itu kami bilang si ‘Rasputin’) berorasi rasa tai dalam celana siapa yang tauuu’, kalimat … Read Moreitu sk diulang2nya. Mungkin ditempat awak duduk, Anwar yg berbeda, tukang koyok, si Anwar Jenggo, merayu jual ‘obat kuat di ridang pohon sisa belanda. Rupanya Medan lebih mengajarkan arti kebersamaan dan kesetiaan.

Terimakasih atas renungannya bang Izh..

Efendy Naibaho

aku baca endingnya saja: yang langka itu ya memang langka.

Damos Nasution

Luar biasa kau Har, ingatan tentang pelaut Nasution dgn istri bule        dan 2 anak ini berbekas jelas, aku ingat waktu aku kecil sering lihat mereka di          daerah Kesawan, Selat Panjang.Tapi sekitar ‘70 aku tdk pernah lihat lagi..

Rahmat Mulia Nasution

Manakala keluarga ini ber-gypsy ria di Medan, kayaknya aku masih SD di Jkt. Baru kutahu ada kisah duka ini. Yang jelas, kebersamaan dan kesetiaan         masih kutemukan di Medan saat libur Lebaran ini. Begitu pula kekumalan &kesemrautan, makin menjadi-jadi, bah! Kapan ya pejabat publik di kota Medan ini lebih berpihak kepada kesejahteraan warga kota dengan transportasi publik serta sarana penunjang publik lainnya?          Salam…

Haz Pohan

ah, si abang ini jago mendramatisir seperti cerita wartawan di harian dobrak dulu. kalau anwar itu menikah dengan orang rantau prapat mungkin atau sidempuan, pasti unsur romantisme nya hilang. tapi thanks, aku ingat lagi cerita itu, paling tidak untuk cerita kenangan lah di masa lalu, ketika masih jadi preman di astanaria             dekat pringgan :) di …siantar dulu juga ada wanita yang sangat terkenal, si pirate (tampilannya memang kayak bajak laut), yang selalu mengitari pusat kota, membawa buntalan spt hasil jarahan. mungkin johny depp mencontoh gaya si pirate ini. juga nggak tahu, di mana dia            gerangan sekarang…

IzHarry Agusjaya Moenzir

Haz, kita pikir orang2 yg termarginalkan seperti mereka tak ada gunanya bagi kita, ya! Ternyata mereka memberi kita pelajaran hidup juga.

Sugeng Satya Dharma

Macam kisah hidupku, bang. Thank’s….

IzHarry Agusjaya Moenzir

Tapi kau tak pala sampe bungkuk… Geng, masih ganteng terus!

Hendra Ds

melihat penampilan PSMS uji coba versus Medan United, walaupun unggul 2-1 tapi penampilan PSMS masih jauh dari harapan… harus-kah beberapa pemainnya kita ganti lagi?

Syahrir Soekardi

Wah.. tugas pak Manajer utk membuat      PSMS berjaya di Divisi Utama dan kembali ke LIGA SUPER. Selamat bertugas !

Roy Romero

dengar2 kabar tadi bakal ada dua pemain yg diganti ya bang? terus jadi angin2 tentang si adolfo souza itu???? di lini belakang masih hancur bang..

Donny Philli

tragis bang, duit yang terkumpulpun cuma 900ribu

Hendrik Prayetno

kalau memang perlu diganti, ganti aja jer, jangan takut takut. demi kemajuan PSMS, hidup

Hendra Ds

@all: mohon saran dan masukan dari kawan2 pecinta psms siapa pemain yang perlu kita ganti…

Donny Philli

affan lubis tuch, dah gak bisa lagi, dah      pantas pensiun….

Zulkifli Harahap

ganti dgn pemain WASPADA PLUS mau??????

Anton Gabe

Perlu dievaluasi dmn kelemahannya….

Hermanto Jakarta

Sory Boss. Setelah dilatih Suimin, sekrg ini PSMS cenderung menggunakan pola apa..? Pola 4-4-2 apa 3-5-2. Seingat saya, Suimin suka dengan pola 3-5-2, dengan demikian coba dicari 3 pemain tambahan lagi untuk posisi penyerang ( 2 pemain juga oke yang bisa tandem ) yang haus gol, gelandang serang sekaligus bisa bertahan ( pengatur serangan ) dan …

Baca Selengkapnyapemain belakang sebagai benteng terakhir. Saya jadi teringat PSMS 80 an, ketika ada almh Zulham Effendi sebagai kapten, dia merupakan gelandang yang mau    bekerja mati-matin utk tim.

Muhammad Joni

ini baru gentle. seorang pimpinan yang     baik adalah orang yang selalu mengakui kelemahannya… maju terus boss

Hermanto Jakarta

Bg Mujo, itu baru pemimpin yang patut      dicontoh. Dikhawatirkan, lingkungan sang pemimpin, nanti nya akan ikut mempengaruhi juga dalam mencari pemain.Tapi awak yakin Boss DS, bisa menilainya…Ok….

Hendra Ds

@hermanto: suimin pake pola 4-4-2, dia bilang masih melihat individu2 pemain tapi dia sdh saya sarankan agar welcome terhadap kritik membangun dan saran dari pecinta psms.@anton:ya saat ini kita sedang evaluasi@mujo:tq bg atas spiritnya..

Robinson Simbolon

jangan dibandingkan dengan liga inggris Tum…..karena semua terpaksa        harus diganti kalau gitu..

You must be logged in to post a comment Login