Kupang ( Berita ) : Penderita buta aksara di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 2009 sebanyak 213.534 jiwa dari jumlah penduduk 4,6 juta jiwa.
“Angka buta aksara tersebut yang tersisa pada 2009, sejak mulai dilakukan pada 2005 lalu,” kata Asisten II Setda NTT, Partini Hardjokusumo di Kupang, Jumat [30/10].
Pemerintah Provinsi, katanya, bertekad untuk menurunkan angka buta aksara di NTT hingga tersisa lima persen dari jumlah penduduk yang ada atau sekitar 200.647 jiwa. Kondisi awal pada 2005 angka buta aksara di NTT mencapai 382.760 atau 10,54 persen, dengan upaya yang dilakukan angka tersebut sudah diturunkan hingga 365.437. Sehingga diharapkan pada 2009 akan mengalami penurunan lagi dan menyisahkan 17.323. ”Kami berharap angka tersebut masih dapat ditekan lagi dan menyisakan sebanyak 17.323 jiwa pada 2009,” katanya. Penyebab tingginya angka buta aksara di NTT, katanya, karena angka putus sekolah terutama kelas awal Sekolah Dasar (SD) atau sedejarat mencapai lima persen.
Kemudian, adanya pengungsi pada beberapa Kabupaten di NTT, dana pemberantasan buta aksara hanya bersumber dari APBN sedangkan dari kabupaten/kota hampir tidak ada.
Ia mengatakan, angka buta aksara tertinggi di NTT terdapat lima kabupaten, yakni Sumba Barat, Timor Tengah Selatan, Manggarai, Belu dan Flores Timur.
Guna menurunkan angka buta aksara hingga lima persen pada 2009, lanjutnya, pemerintah mengambil beberapa kebijakan penuntasannya, yakni pendataan angka buta aksara di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan.
Selain itu, melakukan sosialisasi atau melakukan koordinasi, membangun kerja sama atau kemitraan dengan lembaga lain, seperti lembaga agama dan kemasyarakatan.
Kemudian mengimplementasi pendekatan dan daya dukung, termasuk sharing dana pusat dan daerah, yakni 60 persen dana APBN, 20 persen APBD I dan 20 persen dari APBD II serta melakukan monitoring dan evaluasi pemberantasan buta aksara. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login