Penggunaan standar UAN untuk bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) perlu dilakukan supaya jenjang pendidikan mulai dari SD-SMP-SMA hingga perguruan tinggi tidak terputus. Selama ini, jenjang ini dinilai terputus karena saat akan masuk ke perguruan tinggi, hasil dari UAN tidak digunakan atau tidak lagi jadi patokan karena para siswa harus mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau SPMB (Seleksi PenerimaanMahasiswa Baru).
Wacana Ujian Akhir Nasional (UAN) bisa diintegrasikan SNMPTN sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu. Namun yang mendukung belum banyak, apalagi dari kalangan PTN, di mana sepertinya mereka sangat keberatan dengan alasan yang cenderung dicari-cari.
Alasannya sejumlah tokoh pendidikan di PTN yang sudah terbiasa mengadakan SPMB atau SNMPTN menolak kalau UAN dijadikan tiket masuk PTN karena ditakutkan nantinya mahasiswa yang diterima lewat UAN tidak berkualitas. Tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, sepertinya tidak tepat. Apalagi, dengan SPMB atau SNMPTN pun mahasiswa yang lulus tetap saja banyak tidak berkualitas.
Hal itu dapat dilihat dari kemampuan mahasiswanya dalam menyerap pelajaran dalam bangku kuliah, dan lebih parah lagi kalau melihat ‘’out put’’ lulusan PTN itu sendiri yang akhirnya hanya menambah panjang daftar pengangguran karena tidak mampu bersaing. Yang lulus PTN terus bertambah banyak setiap tahunnya, sementara yang bisa menembus lapangan kerja sebagai profesional hanya sedikit. Apalagi di kalangan PTS, lebih parah lagi sehingga jumlah pengangguran terdidik (sarjana) jumlahnya semakin membludak saja dewasa ini.
Memang masih banyak yang harus dibenahi, namun kita semua harus mendorong ke depan UAN bisa lebih baik dan efektif sehingga hasilnya lebih terpercaya, sehingga tidak perlu orang tua siswa harus merogoh kocek sampai Rp500 ribu bahkan Rp1 juta hanya untuk ikut SPBM atau SNMPTN. Belum lagi PTN itu juga melakukan seleksi sendiri.
Karena masih banyak yang harus dibenahi, kita sependapat dan meminta kepada seluruh perguruan tinggi negeri segera mempersiapkan dengan melibatkan diri misalnya dengan ikut masuk dalam pembuatan soal UAN, sehingga standar nilai UAN benar-benar bisa dijadikan patokan untuk masuk perguruan tinggi negeri.
Harapan kita, pihak PTN punya keinginan mengubah sistem masuk PTN dengan menggunakan hasil UAN. Jangan berpikir tidak akan dapat uang masuk seperti selama ini dilakukan. Boleh saja Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Prof Priyo Suprobo menilai untuk saat ini standar nilai UAN memang belum bisa dijadikan patokan karena kridibilitas UAN masih sering dipertanyakan. Beberapa daerah masih kurang sempurna, kalau tidak ada kecurangan mungkin bisa dijadikan patokan.
Meski kondisi UAN saat ini masih banyak dipertanyakan, namun pelaksanaan standarisasi UAN untuk masuk perguruan tinggi menurut dia tetap akan bisa dilakukan maksimal sesuai target pada tahun 2012 mendatang. Untuk memenuhi target ini, dalam waktu dekat para rektor perguruan tinggi negeri akan segera berkumpul untuk membahas masalah ini. Saat ini, hak menerima mahasiswa diserahkan ke masing-masing perguruan tinggi, jadi para rektor harus kumpul dulu, melakukan pembahasan. Di sinilah dipecahkan kelemahannya, tapi kita optimis, mengapa? Oleh karena dengan melakukan modifikasi dalam sistem UAN termasuk memasukkan soal-soal yang dapat mengetahui minat dan bakat calon mahasiswa yang tengah mengikuti UN kekhawatiran secara intelektual tersebut tidak semestinya menjadi penghalang menjadikan UAN sekaligus ujian masuk PTN di seluruh Indonesia. Apalagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sudah memungkinkan hal itu dilakukan. Jadi, mereka yang menolak patut diragukan niat baik dan keilmuannya.=
You must be logged in to post a comment Login