Nilai Ekspor Sumut Diperkirakan Belum Bisa Pulih

Banyak yang optimistis pertumbuhan ekonomi Sumut 2010 akan lebih baik dari 2009, tetapi soal perolehan devisa, mereka sebaliknya justru pesimistis. Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Laksamana Adiyaksa, di Medan, Rabu, misalnya, menyebutkan volume dan harga ekspor berbagai produk Sumut pada 2010 diperkirakan masih belum pulih seperti 2008.

Alasannya, meski dampak krisis global mulai bisa diatasi berbagai negara, tetapi daya beli masyarakat dan keuangan perusahaan di dunia khususnya negara tujuan ekspor Sumut masih belum 100 persen pulih. Dampaknya, tentu saja permintaan akan barang dan harga masih tertekan.

“Indikasi belum akan pulihnya lagi devisa Sumut pada 2010 adalah dengan semakin menurunnya produksi beberapa produk andalan di daerah itu, seperti kopi, kakao, teh, tembakau, karet dan produk dari hasil kayu,” katanya.

Dengan penurunan produksi, maka volume ekspor sudah pasti menurun. “Kalau harga juga sedang turun nanti, maka sudah tentu devisa semakin anjlok,” kataya.

Laksamana yang eksekutif di PT Asian Agri itu, mengaku pesimistis Sumut bisa mencapai devisa sebesar 9,261 miliar dolar AS seperti yang diperoleh pada 2008. “Sangat berat rasanya, meski tidak tertutup kemungkinanya khususnya kalau terjadi lonjakan harga di CPO dan karet termasuk kopi yang hingga akhir tahun ini bertahan mahal,” katanya.

Pendapat senada juga dikemukakan Ketua Kadin Sumut, Irfan Mutyara, yang menyebutkan bahwa negara-negara tujuan ekspor Sumut khususnya negara tradisional seperti Amerika Serikat, perekomiannya pada 2010 masih belum normal. Kondisi itu akan membuat pasar di negara itu masih belum terlalu “welcome’ dengan produk asal Sumut.

Apalagi, kata dia, persaingan semakin ketat sehingga sangat memungkinkan produk Sumut ditinggalkan negara pembeli dan beralih ke negara produsen lainnya.

“Pengalihan pembelian semakin sangat memungkinkan mengingat sering sekali produk Sumut kalah bersaing dalam soal harga jual yang diakibatkan biaya produksi yang lebih mahal dibandingkan negara lain,” kata Irfan yang pengusaha kebun dan industri sawit di Sumut dan Aceh itu.

Untuk mempertahankan atau meningkatkan kembali nilai devisa Sumut itu, pemerintah diharapkan memberi berbagai kemudahan ke pengusaha yang akan mengekspor.

Pemerintah juga diminta terus melindungi pasar dalam negeri sehingga pengusaha bisa memasarkan produknya di lokal sehingga tidak terlalu tergantung kepada pasar ekspor. “Pengusaha juga diminta lebih kreatif dengan membuka pasar-pasar baru seperti yang sudah mulai dilakukan seperti membidik pasar China, India dan negara-negara Timur  Tengah yang potensi pasarnya masih sangat besar,” katanya.

Sebagai pengurus Kadin Sumut, Irfan juga berharap pemerintah mengeluarkan dan menjalankan berbagai regulasi yang mendorong pengusaha bisa memproduksi barang jadi ketimbang setengah jadi seperti higga akhir tahun 2009.

Produk jadi, kata dia, akan memebrikan nilai jual yang lebih tinggi sehingga mendorong pencapaian devisa, katanya.

Eksportir  Sumut, Suryo Pranoto membenarkan sulitnya dewasa ini mendapat apsokan berbagai komoditas dari Sumut.

Kopi robusta /arabika misalnya produksinya semakin menurun sehingga eksportir semakin mengandalkan pasokan dari daerah lain  seperti iAceh dan bahkan Lampung.

Begitu juga kakao menyusul PT.Perkebunan Nusantara dan perkebunan swasta melakukan konversi tanaman kakao itu ke sawit. “Belum lagi hasil perkebunan rakyat seperti kemiri, kayu manis, vanili dan cengkih yang semakin langka di Sumut, padahal peluang pasarnya masih tetap ada,” kata Suryo yang eksportir berbagai komoditas itu.

Melihat turunnya produksi berbagai produk Sumut, menurut Suryo, untuk  bisa mencapai angka  devisa 2008 adalah berharap agar harga ekspor bagus atau naik di 2010. “Tapi karena  harga sangat dipengaruhi banyak faktor, maka sangat riskan berharap banyak dari harga jual,” katanya.

Masih 4,937 Miliar Dolar AS

Kepala BPS Sumut, Alimuddin Sidabalok, membenarkan prakiraan devisa ekspor 2009 turun jauh dibandingkan 2008 yag 9,261 miliar dolar AS.

Prediksi itu mengcau pada realisasi peraihan devisa hingga Oktober yang masih 4,937 milair dolar AS atau anjlok 38,82 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sudah 8,070 miliar dolar AS. “Kalaupun realisasi devisa November dan Desember di atas angka Oktober yang meningkat menjadi 551,260  juta dolar AS, realisasi devisa hingga akhir tahun diperkiarakan masih di kisara 6 miliar dolar AS,” katanya.

Tahun ini penurunan devisa terjadi hampir di semua produk atau kelompok barang ekspor mulai dari lemak,minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, rempah, teh dan kopi,, ikan dan udang dan kayu ,barag dari kayu.

Hingga Oktober 2009, hanya beberapa kelompok barang yang naik sedikit dan itu-pun dipicu karena harga jualnya yang lagi melonjak tajam.

Dia memberi contoh , kakao. Devisa kakao hingga Oktober sudah mencapai 98,384 juta dolar AS dari perode sama 2008 yang 91,746 juta dolar AS. “BPS tidak bisa membuat prediksi berapa peraihan devisa tahun 2010. Tapi tentunya berharap bisa lebih baik lagi dari 2009 dan bahkan melampaui 2008 yang 9,261 miliar dolar AS,” katanya. Dia menjelaskan, devisa Sumut dari ekspor non migas sejak lima tahun terakhir terus meningkat.

Pada 2004, devisa Sumut mencapai  4,239 juta dolar AS, disusul 2005 yang sebesar 4,563 miliar dolar AS, 2006 sebanyak 5,523 miliar dolar AS, dan naik terus dimana pada 2007 sejumlah 7,082 miliar dolar AS dan 2008 naik lagi menjadi 9,261 miliar dolar AS.

Sejalan dengan peningkatan devisa, juga terjadi pergeseran negara tujuan ekspor dari negara tradisional seperti Eropa dan Amerika Serikat ke negara China, India, dan termasuk Timur Tengah. ( ant/ Evalisa Siregar )

You must be logged in to post a comment Login