SBY Aman Pansus Boediono – Sri Gamang

Belum lagi Pansus DPR Bank Century mengeluarkan rekomendasi berupa kesimpulan hasil  pemanggilan sejumlah pejabat tinggi negara terkait penggelontoran Rp6,7 triliun, kelihatan Wapres Boediono  sudah pasrah. Bahkan ia mengaku baginya soal jabatan hilang tidak masalah karena yang penting dirinya semata-mata ingin mengabdi kepada bangsa. Wapres Boediono pun mengkhawatirkan negara akan mengalami kegagalan demokrasi yang kedua kalinya, sebagaimana demokrasi yang pernah dialami tahun 1950-1957.

Masa itu berbagai kebijakan ekonomi menjadi sangat tidak efektif karena akan terjadi delegitimasi pemerintahan. Apabila kalau terjadi berlarut-larut pastilah dampak negatifnya sangat besar buat bangsa dan negara. Sebab, pemerintah tidak  akan dapat fokus dalam menjalankan program-program kesejahteraan.

Kegamangan Boediono dan hal yang sama juga terlihat pada Sri Mulyani, memang dapat dimaklumi, karena  ia  termasuk salah satu tokoh penting, sangat menentukan dalam posisinya sebagai Gubernur Bank Indonesia saat proses ‘’bailout’’ Rp6,7 triliun kepada Bank Century. Oleh karenanya, kalau Boediono sepertinya pasrah dengan nasibnya bakal dimakzulkan atau terkena ‘’impeach’’ dalam proses politik di DPR/MPR nanti, semuanya tinggal menunggu waktu saja.

Wacana pemakzulan atau ‘’impeachment’’ terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden  Boediono belakangan ini semakin santer terdengar. Namun, melihat tidak begitu besarnya aksi unjuk rasa di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Jakarta, maka kecil kemungkinan upaya pemakzulan terhadap dua pemimpin pemerintahan saat ini dapat terealisasi.

Melihat jumlah pengunjuk rasa yang terbatas hal itu menunjukkan posisi SBY masih sangat kuat. Aksi demo tidak signifikan sebagaimana diperkirakan banyak pengamat. Lagi pula, sebagian aksi mahasiswa turun ke jalan tidak semua mendesak Presiden SBY atau Boediono mundur, tetapi mereka masih memberi kesempatan pemerintahan sekarang ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya, membenahi bidang hukum yang masih belum berjalan, pilih kasih, bidang ekonomi yang semakin sulit, apalagi dengan berlakunya perdagangan bebas dengan China, maupun bidang-bidang lainnya yang jalan di tempat.  Semua itu bisa terjadi karena pemerintahan SBY  – Boediono  kehabisan energi terkait dengan maraknya kasus ‘’Cicak dan Buaya’’ dan upaya mengkriminalisasi KPK, kasus Prita Mulyasari, sampai kasus megakorupsi Bank Century dan kasus-kasus lainnya testimoni Susno Duadji di 100 hari pemerintahannya.

Yang pasti, tingkat popularitas dan kepuasan masyarakat terhadap  SBY dan Boediono mengalami penurunan tajam. Hampir semua lembaga survei membenarkan anjloknya tingkat elektabilitas SBY, terlebih lagi Boediono.

Kalau saja Pemilu Pilpres diadakan sekarang ini, peluang SBY pasti sangat berat bisa meraih kemenangan. Sangat berbeda dengan hasil yang diperoleh SBY – Boediono tahun lalu, kemenangannya cukup telak. Bahkan mencapai 62 persen sehingga Pilpres hanya berlangsung satu putaran saja. Hal itu bisa terjadi karena SBY dinilai berhasil di periode pertamanya.

Kalau kini muncul rasa penyesalan terhadap kinerja pemerintahan sekarang ini jelas ujung-ujungnya yang paling bertanggung jawab adalah Presiden SBY. Di satu sisi Presiden SBY menganut sistem presidensil dan sangat sulit dilengserkan, apalagi  yang terlibat kental Boediono yang ketika itu beliau menjabat Gubernur Bank Indonesia dan satu nama lainnya Sri Mulyani yang menjabat Menteri Keuangan. Dus, paling-paling dampak Pansus hanya sampai ke Boediono dan Sri Mulyani, sementara SBY aman.=

You must be logged in to post a comment Login