Pelecehan Simbol Negara Atas Nama Kebebasan

Meskipun banyak pihak menilai simbolis yang ditampilkan para pendemo terkait 100 hari pemerintahan SBY cukup kreatif mengundang bahan tertawaan dan minat mengunjung, namun membawa kerbau dan menuliskan inisial SBY di badan hewan bertubuh besar, terkesan lamban dan bodoh itu  tak pelak lagi menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

Banyak belakangan menilai aksi itu  mengarah kepada anarkisme. Seperti yang dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden memberikan perhatian khusus terhadap sejumlah aksi demonstrasi yang dinilai tidak sesuai dengan semangat demokrasi yang tumbuh selama ini.

“Dan saya juga menerima masukan. Contoh yang belum lama, apakah unjuk rasa di negara Pancasila, di negara yang konon memiliki budaya, nilai, peradaban yang baik, seperti beberapa hari yang lalu itu, mari kita bicarakan dengan baik, tanpa mengganggu demokrasi itu sendiri, kebebasan, ekspresi dan sebagainya,” kata Kepala Negara saat membahas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di Istana Cipanas, Cianjur, Selasa siang. Presiden Yudhoyono mengatakan ia mendapat banyak masukan dari berbagai pihak, beberapa di antaranya dinilai Presiden cukup menggelitik.

“Contohnya, saya memahami, tetapi banyak orang yang memberi

masukan yang menggelitik. Pak SBY, apa cocok misalkan ada

unjuk rasa dengan loudspeaker yang besar sekali, teriak-teriak, SBY maling,  Boediono maling, menteri-menteri maling, dan tidak bisa diapa-apakan,” kata Kepala Negara. Presiden juga memberikan contoh masukan yang masuk tersebut juga terkait sejumlah aksi teatrikal dalam demonstrasi namun dinilai tidak patut.

Dari segi hukum aksi demo bisa ditindaklanjuti kalau memang menghina simbol negara, namun ada juga hak masyarakat untuk mengekspresikan keluhannya dan itu juga diatur oleh perundangan. Oleh karenanya, kita jangan cepat merespon sebuah demo dengan tudingan anarkis kalau memang aksi itu berjalan lancar. Apalagi dengan menyalahkan sikap pendemo yang membaswa kerbau selama hal itu memang dibolehkan dan tidak membahayakan orang lain.

Penjelasan Presiden SBY terhadap aksi demo menunjukkan kepala negara kita tanggap terhadap pendemo, bagusnya SBY tidak membuat kebijakan yang dapat menghambat aksi demo lebih sulit di masa mendatang. Memang, reaksi langsung Presiden SBY juga tidak kreatif. Harusnya tidak SBY yang langsung berhadapan dengan para pendemo, karena bisa dianggap kuping tipis. Sangat membahayakan kalau pasca demo kerbau menimbulkan dampak negative bagi perkembangan demokrasi di negeri kita.

Kita sepakat menghina simbol negara, apalagi SBY dipilih lebih 60 persen suara rakyat secara langsung  bukanlah perbuatan yang cerdas, masih banyak cara lain yang lebih elegan. Kalau caranya vulgar dikhawatirkan rakyat tidak simpati dan balas membela SBY yang memang naiknya karena pencitraan, di mana SBY seakan-akan dizalimi oleh penguasa masa lalu yaitu Megawati.  Dengan begitu, aksi demo yang tidak etis dan menghina sebaiknya dihindari, meskipun kebebasan berpikir dan berekspresi wajib dipertahankan.

Pada saatnya ada kesadaran bahwa bangsa ini sudah mulai kehilangan arah mana yang harus ditempuh jika dikatakan terlalu ekstrim. Banyak oknum yang sekarang terkesan berpikir mau jadi apa setelah ke depan bangsa ini. Mereka ini tidak pernah merasa malu -atau mungkin karena urat malunya sudah putus- melihat rakyatnya. Kehidupan yang serba mewah dan berkecukupan membuat mereka mabuk. Mereka tidak pernah berpikir seperti apa nasib sebagian besar rakyat Indonesia yang hidup susah, melarat dan penuh penderitaan.=

You must be logged in to post a comment Login