Jakarta (Berita) Kegelisahan seorang ayah yang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu, ternyata masih mampu mengusik kehidupan sang anak yang sukses mempertahankan dan mengembangkan usaha yang ditinggalkan. Semasa hidup putra kelahiran Aek Raisan, Tapanuli Tengah , Mangaraja Hutagalung ada kegelisahan ditengah kesuksesan membagun Arion Paramita Holding Campany. Kegelisahan itu, terkait ketertinggalan bonapasogit.
Kegelisahan yang ditinggalkan sang ayah itu, membuat Pirton seorang tokoh muda yang berjiwa kebangsaan serta mempunyai kemampuan dan kapasitas tidak dapat menghindarkan panggilan jiwa yang keluar dari dalam hati sanubari yang paling dalam. Kesuksesan yang sudah dicapai dengan mengendalikan berbagai perusahaan tidak membuat pria Batak ini merasa tenang dan senang. Keterusikan dan kegelisahan akan keberadaan Bona Pasogit menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi. Apa lagi Bona Pasogit sebenarnya cukup punya potensi namun selama ini dibiarkan tertidur.
Sosok Pirton Hutagalung adalah sosok anak manusia yang penuh kesederhanaan dan senang menghadapi tantangan. Jiwa untuk bekerja keras, kecerdasan, dan kewibawaan sebagai pemimpin adalah kesan yang sangat menonjol, saat diwawancarai wartawan Berita Sore Andy Yanto Aritonang . Ketertinggalan kawasan Tapanuli yang meliputi Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara sudah bertahun-tahun lalu menjadi pembahasan . Bahkan, tahun 1982 berita ketertinggalan kawasan Tapanuli sempat merebak, taat kala Harian Sinar Harapan menyebutkannya sebagai .Peta Kemiskinan”. Saat itu, semua orang Batak , tanpa terkecuali dan tanpa melihat agama yang dianut, ramai-ramai terbangun dari kebisuan, bahkan mantan Gubernur Sumatra Utara almarhum Raja Inal Siregar mencanangkan program Marsipature Hutana Be (Martabe) dan para perantau melakukan perjalanan pulang kampung dengan membawa dana. Namun, hasil yang dicapai melalui Martabe belum menggembiraka, apalagi setelah Raja Inal tidak jadi gubernur, program itu lenyap tanpa bekas.
Ketika disebutkan sebagai Peta Kemiskinan, kenapa semua orang Batak bergerak? Pirton pun mulai membangkitkan rasa persatuan dikalangan Batak. Untuk itu, menurut Pirton, kalaupun ada wacana menjadi satu provinsi maka namanya adalah Propinsi Batak yang kawasannya meliputi Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.
Nama ini diyakini tidak akan menimbulkan perbedaan antara masyarakat Batak, baik beragama kristen maupun beragama Islam. “Kita mau bicara ketertinggalan huniaan orang Batak secara utuh dan bukan bicara etnis-etnis Batak,” katanya.
Pria lulusan Sacred Heart University Bachelor of Science Amerika Serikat ini mengingatkan bahwa orang Batak adalah keturunan si Raja Batak. Si Raja Batak memiliki dua anak yakni Guru Tetea Bulan dan Si Raja Somba. Dari kedua anak si Raja Batak inilah kemudian beranak pinak melahirkan seluruh marga-marga Batak yang ada sekarang. ” Jadi jika ingin ada pemekaran guna mengejar ketertinggalan maka namanya harus Provinsi Batak,” tegasnya
Suami dari Lucy Br Batubara menyadari betapa pentingnya kebersamaam dan keperdulian masyarakat Batak demi memajukan Bona Pasogit. ” Sudah tiga puluh tahun lebih saya bolak-balik pulang ke Bona Pasogit( Aek Raisan Tapanuli Tengah), namun sejak dulu sampai sekarang kampung itu masih belum banyak perubahan. Kertertinggalan ini, juga tidak terlepas dari sumberdaya manusia. Tanpa didukung sumber daya manusia yang mapan dan ditopang infrasturktur yang memadai, jangan harap satu daerah yang punya potensi , akan berkembang
” Bila kehidupan seseorang sudah mapan dan berkembang sesuai dengan kemampuannya, tentu apa yang dimiliki pasti akan berimbas disekelilingnya. Paling tidak akan membantu keluarganya sendiri, ujarnya Pirton menyatakan prihatin , sumber daya alam di wilayah tanah Batak tidak memperlihatkan kemajuaan dalam pengelolaan. ” Kalau pun ada satu daerah yang mampu mengelola sumber daya alamnya, namun biaya distribusi produk sangat besar, karena sarana transportasi yang belum terpenuhi.
Ayah dari Patricia Rouline Hutagalung ini melihat persoalan mendasar yang membuat Bona Pasogit belum maju adalah keengganan orang Batak untuk mau bersatu. Pada hal semua orang Batak yang menyandang predikat marga, tanpa membedakan subetnik dan agama berasal dari figur satu individu yaitu si Raja Batak.
Keenganan orang Batak bersatu, dilukiskan Pirton terhadap pembangunan tugu, dimana marga-marga keturunan Guru Tetea Bulan sudah memiliki tugu sebagai lambang pemersatu, tetapi marga-marga keturunan Si raja Somba belum membangun tugu pemersatunya. ” Saya hanya bertanya , bukan bermaksud memecah belah atau ada kesombongan. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk menciptakan saing-saingan, tetapi saya hanya bertanya kenapa tidak ada tugu keturunan Raja Somba ? Padahal marga -marga dari keturunan Raja Somba rata-rata hebat dan populer,” tandanya.
Beranjak dari kurangnya persatuan itu, Pirto mengajak masyarakat Batak untuk mengambil sisi positif dari Gebu Minang, dimana masyarakat Minangkabau di perantauan rutin mengumpulkan dana untuk pulang bersama membangun kampung halaman.
Pirton pun mengusulkan agar orang Batak yang diperantauan mau menyisihan Rp1000 demi Bona Pasogit. Jika orang Batak diperantauan sebanyak 1 juta menyisihkan Rp1000 perbulan maka dalam tempo lima tahun dalam terkumpul mencapai Rp 5 miliar.
Jumlah itu, kata Pirton, jika digunakan untuk beasiswa tentu akan banyak orang Batak yang lulus dari perguruan tinggi ternama. ” Jadi kalau kita satu, maka bisa ribuan orang pintar yang akan kita hasilkan. Jadi kita harus tetap mepererat persatuan orang Batak dan jangan terpecah . ” Kalau dulu tidak ada orang tapanuli yang ada adalah orang Batak. Tapanuli itu adalah bentukan Belanda untuk memecah Batak. Jadi kita mulai sekarang harus berbicara Batak dan bukan Tapanuli. Pirton punya keyakinan bahwa tidak akan puas dengan kesuksesan usaha, jika pengabdian kepada Bona Pasogit tidak kesampaian (andy yanto aritonang)
You must be logged in to post a comment Login