Jakarta ( Berita ) : KBRI Abu Dhabi bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan KBRI dan anggota masyarakat Indonesia di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE), menyelenggarakan “Indonesian Charity Bazaar and Cultural Performances” yang kedua kali.
Berbeda dari tahun lalu, maka bazar yang berlangsung pada akhir pekan lalu lebih beragam dilihat dari variasi makanan, pertunjukan sampai lokakarya batik yang melibatkan warga setempat, demikian siaran pers KBRI Abu Dhabi, Rabu [24/02] .
Dua makanan favorit, sate dan martabak bahkan habis diborong sebelum bazar berakhir pukul 15.00 waktu setempat.
Dua kelompok gamelan anak-anak, tari merak dan jaipongan, tari kuda lumping yang dimainkan oleh tujuh orang TKW bermasalah yang saat ini ditampung di KBRI, kulintang yang dipadu dengan angklung serta berbagai makanan khas Indonesia menyemarakkan bazaar yang kali ini dihadiri oleh sekitar 1.000 orang.
Dubes RI untuk Uni Emirat Arab, M. Wahid Supriyadi, dalam sambutannya menyatakan bahwa sambutan luar biasa terhadap acara ini tahun lalu telah menguatkan keinginannya untuk memasukkan bazaar amal sebagai program tahunan KBRI Abu Dhabi.
Ditambahkan, hasil dari bazaar ini sepenuhnya akan disumbangkan kepada dua yayasan di Indonesia untuk membantu rekonstruksi rumah kayu di Padang dan beasiswa bagi anak-anak pegawai negeri sipil golongan I dan II di lingkungan Kemlu. Seusai penutupan bazar, telah terkumpul uang sekitar Dh. 19.000 (lebih Rp47 juta).
Lokakarya batik Indonesia yang hanya menyediakan 60 tempat duduk, di luar dugaan mendapat tanggapan yang sangat tinggi, termasuk beberapa warga lokal yang mengenakan pakaian khas mereka, kondora.
Kali ini, KBRI menghadirkan seorang instruktur dari Batik House Indonesia, Venny Alamsyah, yang dengan sabar menerangkan asal-muasal batik dan mengajarkan bagaimana membuat batik.
Peserta pun antusias mengikuti arahan instruktur, dari membuat pola sampai pemberian warna dengan peralatan dan bahan-bahan yang dibawa secara khusus dari Jakarta.
Kegiatan lokakarya batik tidak saja diselenggarakan selama bazaar, melainkan juga di General Women’s Union (GWU), pada 21 Februari 2010 yang dihadiri oleh sekitar 60 peserta anggota GWU, pengusaha wanita setempat dan para siswi dari Zayed University, dan pada 22 Februari 2010 di sekolah elit khusus putri, the Sheikh Zayed Private Academy (SZPA).
Di sekolah anak-anak untuk kalangan keluarga Sheikh ini, lokakarya batik di luar dugaan mendapat sambutan yang luar biasa. Tampaknya selama ini mereka hanya mengetahui Indonesia karena pembantu mereka umumnya berasal dari Indonesia.
Dalam acara yang dipadu dengan promosi pariwisata ini mereka terkejut ternyata Indonesia memiliki budaya yang tinggi dan keindahan alam yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Beberapa siswi bahkan mengatakan akan mengajak orang tuanya untuk berlibur di Indonesia dan sebagian lagi menyatakan kepada kepala sekolah SZPA untuk melakukan widya wisata ke Indonesia untuk belajar membatik.
Promosikan kebudayaan
Menurut Dubes Wahid, selain menekankan perdagangan dan ekonomi, KBRI bertekad akan terus mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat lokal yang generasi mudanya umumnya tidak mengenal Indonesia kecuali pembantu.
Keberhasilan KBRI menghadirkan Kyai Kanjeng tahun lalu serta penampilan tim kesenian KBRI di berbagai acara, sedikit demi sedikit telah mengubah kesan negatif warga setempat tentang Indonesia. Acara ini juga diliput oleh harian berbahasa Inggris terbesar, the Gulf News dan dua surat kabar berbahasa Arab utama, Al Khaleej dan Al Itihad.
Keberhasilan KBRI dalam menyelenggarakan acara ini setidaknya telah mendorong beberapa Perwakilan asing di Abu Dhabi untuk melakukan hal yang sama.
Bahkan KBRI telah diminta oleh kelompok isteri para Duta Besar Asia (Spouses of Asian Ambassador’s Group) untuk menjadi tuan trumah atau “host” pada Asian Food Bazaar pada 13 Maret mendatang. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login