Sosialisasi Kejujuran UN

Kalau tahun lalu Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof DR Bambang Sudibyo mengatakan perlunya kejujuran dalam Ujian Nasional (UN) karena ia melihat angka-angka fantastis yang dicapai anak didik saat itu, pastilah hal itu disebabkan adanya kecurigaan permainan dalam pelaksanaan UN.

Memang masalah kejujuran itulah  yang terpenting dalam dunia pendidikan. Untuk apa angka 9 dan 10 di UN kalau diperoleh dengan cara tidak jujur. Lebih lanjut Mendiknas menegaskan bahwa akhlak dan budi pekerti adalah segala-galanya. Jadi kejujuran sangatlah penting nilainya dibanding hasil UN, katanya sembari menyebutkan  setiap kepala daerah tidak usah menargetkan hasil UN yang muluk-muluk setiap tahunnya.

Kemarin, Dinas Pendidikan Sumatera Utara pun mensosialisasikan “UN jujur” ke kabupaten/kota di provinsi itu agar ujian berjalan aman tanpa adanya upaya-upaya kecurangan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ketua UN Sumut, Dwi Anang Wibowo, di Medan mengatakan, Disdik Sumut telah melakukan diseminasi ke- 33 kabupaten/kota di Sumut berupa sosialisasi mengenai Ujian Nasional (UN). Termasuk juga di dalamnya kampanye “UN jujur” yang salah satunya adalah dengan melakukan penyebaran brosur-brosur. Brosur yang berisikan imbauan agar UN dijalankan dengan lebih mengedepankan kejujuran itu telah dibagikan dijajaran kabupaten/kota.

Salah satu dari program kerja Disdik Sumut tersebut difungsikan agar pelaksanaan UN berjalan dengan baik dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang pelaksanaan UN selama ini penuh dengan ketidakjujuran sehingga menimbulkan pro-konra di masyarakat, bahkan menggugat ke pengadilan sampai MA dan mengabulkannya. Fakta di lapangan menunjukkan jumlah kelulusan dalam UN semakin meningkat.

Tidak hanya jumlah yang lulus, tetapi juga nilainya. Sebab, tidak sulit menemukan nilai delapan, sembilan, bahkan sepuluh  dalam tanda kelulusan UN siswa tahun lalu. Tapi murnikah nilai itu? Banyak tidak yakin!

Seharusnya, kenaikan kelulusan angka fantastis itu kita sambut dengan gembira. Namun kenyataannya tidak demikian. Sebab, Mendiknas curiga, banyak pihak tidak jujur sehingga ia mengatakan Ujian Nasional adalah ujian kejujuran,  karena hal itulah  yang terpenting dalam dunia pendidikan.

Lebih lanjut Mendiknas menegaskan bahwa akhlak dan budi pekerti adalah segala-galanya. Jadi kejujuran sangatlah penting nilainya dibanding hasil UN, katanya sembari menyebutkan  setiap kepala daerah tidak usah menargetkan hasil UN yang muluk-muluk setiap tahunnya.

Pernyataan mantan Mendiknas berikut ini sungguh mengejutkan kita. Katanya: “Hasil UN yang terlalu tinggi justru malah mencurigakan,” kata Bambang seakan tidak yakin dengan hasil UN  tahun ini yang hasilnya sungguh fantastis.

Hemat kita, tingginya  tingkat kelulusan UN tahun lalu di  berbagai daerah, termasuk Medan/Sumut  bisa terjadi karena semua pihak yang terkait memang bersiap dan mempersiapkan dirinya dengan serius. Wajar kalau hasilnya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Namun bisa juga karena faktor ketidakjujuran dari murid, guru, sekolah sampai pejabat Diknasnya terlibat melakukan rekayasa. Takut jadi masalah, takut dicopot dari jabatannya kalau jumlah yang lulus rendah, maka segala daya dan upaya dilakukan untuk membantu siswa sehingga hasilnya benar-benar luar biasa.

Justru itu, mari kita sosialisasikan pentingnya kejujuran dalam UN. Siswa perlu dibekali dengan persiapan yang cukup sehingga jujur dalam UN. Tidak jujur dalam UN bisa terjadi karena banyak faktor di antaranya tingginya target dan ketakutan berlebihan.=

You must be logged in to post a comment Login