Babat Habis Teroris

Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Muhammad Nazar menyatakan masyarakat mendukung operasi kepolisian yang sedang mengejar tersangka jaringan teroris. Sebagai upaya untuk mengamankan wilayah ini dari gerakan-gerakan yang dapat mengusik perdamaian di provinsi itu. Tapi yang penting diperhatikan adalah operasi itu objektif dan tidak merugikan Aceh.

Sepanjang sejarah paham radikalisme dan terorisme tidak pernah berkembang di Aceh. Hal itu juga tidak dibenarkan oleh ajaran agama khususnya Islam, apalagi kekerasan tersebut tidak pernah menyelesaikan masalah.

Memang  kekerasan tidak pernah menyelesaian masalah, tapi selalu menimbulkan masalah baru sehingga kian kompleks. Terbukti konflik GAM di masa lalu hingga dua dasawarsa lebih tak kunjung selesai. Sampai datangnya perundingan dan MoU perdamaian Helsinki tahun 2005 baru masalahnya selesai hingga saat ini kehidupan masyarakat Aceh kian meningkat dan sejahtera.

Jadi, kecil kemungkinan warga Aceh ikut terlibat dalam jaringan teroris di hutan Aceh Besar saat. Sebab, mereka sudah begitu lelah dengan konflik bersenjata di masa lalu, sampai akhirnya pemerintah Indonesia dan GAM mencapai kesepakatan Helsinki. Kalaupun ada melibatkan warga Aceh bisa jadi mereka sekadar ikut-ikutan saja, atau karena sakit hati tidak terakomodir pasca perdamaian di Aceh sekarang ini. Pemerintah sendiri lewat Presiden SBY dan petinggi Polri sudah menegaskan mantan anggota GAM tidak terkait sama sekali.

Hemat kita, Kapolri perlu menjelaskan identitas kelompok teroris yang menjadikan areal hutan di Aceh sebagai basis latihan. Bisa saja mereka datang dari jaringan Al-Qaeda atau kelompok garis keras lainnya yang direkrut dari berbagai daerah. Apa motif di balik mendirikan camp militer di Aceh  belum jelas, apakah mereka berniat menyerang Presiden Barrack Obama yang sebentar lagi datang ke Indonesia, atau keberadaan mereka baru sekadar latihan setelah melakukan rekrutmen anggota baru. Semuanya itu perlu diungkap kepada publik.

Justru itu, pimpinan Polri perlu memberikan penjelasan yang rinci seputar keberadaan jaringan teroris di Aceh saat ini. Sebab, bisa jadi jaringan  yang sama juga melakukan latihan di provinsi lain, termasuk di Sumut. Sebab, medannya hampir sama.

Masih banyak hutannya dan dekat dengan laut sehingga mereka dapat melarikan diri ke luar negeri atau lebih mudah mendatangkan persenjataan mengingat garis pantai di Aceh dan Sumut cukup panjang dan banyak belum terpantau keamanannya.

Melihat medannya yang berbukit-bukit para teroris sangat diuntungkan. Apalagi mereka sudah lebih menguasai medan pertempuran dibandingkan petugas Brimob dan Densus 88. Hal itulah mungkin yang menyebabkan banyak anggota kepolisian yang menjadi korban.  Namun begitu kita memuji petugas Densus 88 dengan dukungan Brimob Aceh bertekad terus mengejar kawanan teroris untuk dibabat sampai habis ke akar-akarnya.

Alhamdulillah, kekuatan kelompok teroris yang terus diburu oleh pihak kepolisian kini semakin berkurang, diperkirakan mereka sudah kocar-kacir melarikan diri berpencar setelah 14 pelaku diduga teroris berhasil ditangkap petugas kemarin termasuk pemasok senjatanya. Dengan semakin jauhnya penyisiran areal hutan yang dijadikan lokasi berlatih perang-perangan membuat masyarakat di sana lega dan aktivitas warga pemukiman Lamkabeu Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar kembali normal pasca pengepungan kelompok bersenjata.

Mereka kini sudah berani ke luar rumah untuk bekerja di kebun dan sawah, juga menjual hasil pertaniannya. Suasana mencekam kini berangsur-angsur lenyap berkat kesigapan petugas polisi dan sistem pengamanan yang cukup terkoordinir di lapangan.=

You must be logged in to post a comment Login