SEMINAR INTERNASIONAL PERTAHANAN : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutannya pada Pembukaan Seminar Internasional Pertahanan , di Istana Negara , Jakarta, Rabu (17/3). Seminar mengambil tema, Menuju Indonesia 2025 : “Tantangan Geopolitik dan Keamanan”. ( ANTARA/pandu dewantara/hp/10 )
Jakarta ( Berita ) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan akan mengajak timpalannya dari Amerika Serikat (AS) Barack Obama untuk bertukar pikiran mengenai perkembangan dunia.
“Minggu depan (presiden) Obama akan ke Indonesia dan pasti akan ada waktu untuk bertukar pikiran tentang perkembangan dunia,” kata Presiden di Istana Negara, Jakarta, Rabu [17/03] , saat membuka seminar internasional dengan tema “Indonesia Menuju 2025″.
Menurut Presiden, setelah perang dingin berakhir, serangan teroris di New York dan terjadi krisis global, dunia sedang mencari dan membangun tatanan yang baru dengan segala polanya.
Ia menilai peta baru dunia itu juga memunculkan hubungan-hubungan baru, pergeseran kekuatan dunia serta ancaman-ancaman non tradisional. Oleh karena itu, lanjut dia, diperlukan upaya-upaya bersama untuk menjawab tantangan-tantangan global tersebut.
Pada kesempatan itu Presiden mengemukakan empat teorinya untuk menjawab tantangan global yaitu keperluan adanya suatu kesadaran baru, penguasaan teknologi, kemitraan dan kerjasama global yang efektif dan penyelesaian masalah secara damai.
Selain berniat melakukan tukar pikiran dengan Obama, Kepala Negara juga berniat untuk melakukan tukar pikiran dengan Perdana Menteri China Wen Jiabao yang dijadwalkan melakukan lawatan ke Indonesia pada April 2010.
Presiden Obama akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 23-25 Maret 2010. Situasi politik dalam negeri AS yang masih panas terkait Undang-Undang Kesehatan membuat lawatan pertama Obama ke Indonesia batal membawa serta keluarganya sebagaimana rencana semula.
Empat Pesan Hadapi Tantangan Global
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan empat hal utama yang harus dilakukan masyarakat dunia untuk menghadapi tantangan global karena perang terbuka tidak lagi dipicu oleh perbedaan ideologi atau perluasan wilayah.
Perang terbuka dipicu oleh ancaman nontradisional seperti perebutan sumber daya alam dan energi.
Hal itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka seminar internasional peringatan satu tahun Universitas Pertahanan, dengan tema “Indonesia Menuju 2025: Tantangan Geopolitik dan Keamanan dengan Fokus Sumber Daya Alam, Ekonomi dan Energi di Istana Negara, Jakarta, Rabu.
“Pertama diperlukan kesadaran dan tanggung jawab baru dari seluruh negara dan masyarakat termasuk kesadaran untuk membangun gaya hidup yang probumi dan planet,” katanya.
Kedua, lanjut Kepala Negara, adalah penguasaan teknologi yang mampu mengatasi permasalahan global termasuk masalah pangan, energi dan air, yang menjadi ancaman-ancaman nontradisional.
“Ketiga, adalah diperlukannya kerja sama dan kemitraan global yang lebih efetif. Dan empat, manakala terjadi benturan kepentingan tentang (ancaman-ancaman nontradisional) mari kita mencari solusi secara damai, jangan terlalu mudah menggunakan kekuatan militer atau “hard power” lain,” katanya.
Presiden selaku salah satu pemimpin dunia menyeru masyarakat internasional untuk membangun peradaban dunia yang baik.
Pada kesempatan itu , Kepala Negara menilai bahwa dengan berakhirnya perang dingin, serangan teroris di Amerika Serikat (AS), dan krisis global, maka dunia sedang bergerak untuk membangun sebuah tatanan baru.
Presiden menyebut mengenai pergeseran-pergeseran kekuatan dunia serta bertambah banyaknya isu-isu global yang dulu berakhir di perang dingin.
Terkait dengan keberadaan Universitas Pertahanan, Kepala Negara berharap agar universitas tersebut dalam mengembangkan kekhasan dan keunggulannya.
Pakar modern
Sementara itu Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa seminar internasional itu dilakukan untuk merayakan ulang tahun pertama Universitas Pertahanan, yang digunakan untuk mempersiapkan generasi pemimpin dan pakar pertahanan yang modern dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Pentingnya kita memiliki sebuah Universitas Pertahanan adalah sebagai wadah untuk sumbangan pikiran dan memberikan fokus tentang kemana negeri ini akan dibawa dalam konteks perubahan nasional, regional dan global,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pembentukan Universitas Pertahanan merupakan salah satu wujud reformasi TNI dalam sipil-militer.
“Wujud reformasi TNI dapat dilihat dari TNI yang fokus pada peningkatan profesionalisme dan tugas utamanya menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa dari ancaman luar dan dalam negeri,” katanya.
Pembentukan Universitas Pertahanan Indonesia diprakarsai oleh Menteri Pertahanan dan Panglima TNI dan diresmikan pada 11 Maret 2009 oleh Presiden Yudhoyono. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login