Bandung ( Berita ) : Menteri Penindustrian MS Hidayat menyatakan, setelah ACFTA berlangsung, produk konsumsi impor asal China secara keseluruhan memang meningkat, tapi jumlahnya belum mengkhawatirkan.
“Pada Januari dan Februari impor produk jadi barang-barang konsumsi dari China memang naik, tapi jumlahnya belum sebesar yang dikhawatirkan,” kata MS Hidayat, di Bandung, Kamis [18/03] .
Dari enam produk konsumsi asal China yang dikhawatirkan akan membanjiri pasar Indonesia, produk makanan dan minuman serta alas kaki merupakan produk yang jumlah impornya naik.
Berdasarkan skema perjanjian perdagangan bebas, impor produk makanan dan minuman pada Februari 2010 mencapai lebih dari Rp25 miliar, meningkat dibandingkan November 2009 berkisar Rp15 miliar. Sementara itu impor produk alas kaki pada Februari 2010 berada di atas Rp 2,5 miliar, meningkat dibanding November 2009 Rp2 miliar.
Namun demikian, Hidayat mengatakan, pemerintah akan terus melakukan pengawasan tiap minggu di pelabuhan-pelabuhan. “Kita harus cepat bertindak. Yang pertama, kita akan terus lakukan renegosiasi 228 pos tarif. Lalu kita akan melakukan penjagaan lewat non tarif barier dan memperketat penerapan SNI produk-produk dari China,” katanya.
Selain itu menurut dia, untuk menghadapi ACFTA, pemerintah akan menargetkan peningkatan daya saing global dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah yang tertunda
“Pemerintah akan kerjakan berbagai pekerjaan rumah seperti perbaikan infrastruktur, perbaikan pasokan energi dan industri, perbaikan birokrasi dan menghilangkan biaya-biaya yang tidak perlu,” kata Hidayat.
Komposi produk impor Indonesia dari China masih dikuasai oleh produk barang modal dan bahan baku. Produk impor barang modal dan bahan baku dari China mencapai 78,72 persen, katanya.
Hal itu jauh bila dibanding dengan enam produk konsumsi asal China yang dikhawatirkan akan menguasai pasar Indonesia yakni makanan dan minuman 0,33 persen, mainan anak 0,36 persen, alas kaki 0,37 persen, pakaian jadi 0,59 persen, besi baja 9,39 persen, dan elektronika 10,25 persen.
Untuk itu Hidayat mengatakan, pada 2010 ia akan meningkatkan industri barang modal di Indonesia agar tidak mengimpor lagi dari China.
“Industri barang modal di Indonesia ini mengalami defisit, karena setelah Orba, kita melupakannya. Untuk itu saya akan bicara pada Menteri Keuangan agar bisa beri bantuan untuk meningkatkan industri barang modal ini,” kata Hidayat. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login