Haruskah Vuvuzela Dilarang ?

Vuzuvela, terompet khas Afrika yang sangat digemari oleh para penonton sepak bola, akhir-akhir ini menjadi isu kontroversial selama berlangsungnya Piala Dunia 2010. Selama pertandingan, para penonton televisi di Tanah Air bisa mendengarkan suara gaduh yang ditimbulkan. Jika ditiup secara serentak oleh puluhan ribu penonton, suara yang keluar lebih mirip suara gajah atau tawon mengamuk.

Bagi sebagian pemain, suara berisik tersebut bukannya menjadi pemacu semangat, tapi justru bisa mengganggu konsentrasi karena mereka sulit berkomunikasi satu sama lain karena terhalang suara terompet. Yang tidak kalah terganggu tentunya para penyiar televisi atau wartawan radio yang menyiarkan pertandingan tersebut secara langsung.

ANTARA menyaksikan seorang wartawan radio dari Meksiko di Stadion Soccer City harus berteriak-teriak sambil menutup sebelah kuping karena tidak bisa mendengarkan suara lawan bicara. Wartawan tersebut terpaksa berlari ke toilet yang terletak di tribun bawah dan menutup pintu agar suara gaduh setidaknya bisa dikurangi.

Panitia Piala Dunia 2010 sebenarnya menghadapi masalah yang cukup pelik untuk memutuskan keberadaan vuvuzela di stadion. Tidak mengherankan jika para pejabat dalam Panitia Lokal mempunyai sikap yang berbeda soal vuvuzela dan umumnya menolak larangan terhadap penonton membawa terompet tersebut ke stadion.

Ketua Panitia Danny Jordaan, memiliki sikap yang abu-abu karena tidak bisa tegas soal vuvuzela.  Sikap Jordaan bisa dimengerti karena ia harus mengakomodasi kepentingan yang lebih luas, yaitu kenyamanan tim peserta, dan yang lebih penting tentu saja kenyamanan sponsor televisi yang telah mengeluarkan dana jutaan dolar AS untuk membeli hak siar. “Kami telah berusaha untuk mendapat perintah melarangnya. Kami juga telah meminta agar vuvuzela dilarang selama dinyanyikannya lagu kebangsaan atau selama pengumuman di stadion,” kata Jordaan menanggapi keluhan para komentator televisi.

Vuvuzela juga dijadikan kambing hitam bagi pemain ketika tim mereka gagal meraih kemenangan, seperti yang disampaikan oleh Patrice Evra, kapten tim Perancis.

Gara suara bising tersebut, juara dunia 1998 dan runner-up 2006 itu bermain buruk dan hanya mampu bermain imbang tanpa gol saat menghadapi Uruguay pada pertandingan pertama di Cape Town, 11 Juni lalu.

“Kami tidak dapat tidur pada malam hari karena vuvuzela. Orang mulai meniupnya mulai pukul 06:00 waktu setempat. Kami tidak mendengar yang lainnya di lapangan karena suara terompet itu,” kata pemain yang membela klub Inggris Manchester United itu.

Menentang Pelarangan

Namun suara tegas-tegas menyatakan tidak akan melarang vuvuzela selama penyelenggaraan pesta sepak bola yang untuk pertama kali digelar di benua Afrika itu adalah Rich Mkhondo, juru bicara panitia.

Mkhondo berasalan, vuvuzela tidak hanya disukai oleh pendukung tuan rumah Afrika Selatan, tapi pendukung tim lainnya. Selain itu, vuvuzela telah menjadi semacam ikon sepak bola Afrika Selatan.

“Vuvuzela tidak akan pernah dilarang. Semua orang di dunia menyukai vuvuzela dan hanya sebagian kecil yang menentangnya. Tidak pernah ada pemikiran panitia untuk melarang vuvuzela selama turnamen,” kata Mkhondo.

Sepp Blatter, tokoh nomor satu FIFA, juga sudah menolak permintaan melarang vuvuzela dengan alasan yang sama.

Lebih jauh Mkhondo meminta agar semua pihak bisa memahami bahwa vuvuzela adalah sebagai bagian dari cara masyarakat lokal untuk memeriahkan pesta Piala Dunia 2010. Melarang vuvuzela juga berarti mematikan budaya mereka.

“Tolong dihormati juga karena ini adalah bagian dari budaya kami. Pendukung dari negara lain juga mengikuti cara kami untuk memberikan dukungan kepada tim mereka,” katanya.

Salah seorang yang sangat menikmati gurihnya rezeki dari vuvuzela tentunya Brandon Bernado, pemilik situs vuvuzela.co.za  dan pabrik yang mampu memproduksi 10.000 terompet plastik itu sehari.

Bernado mengaku, promosi negatif terhadap vuvuzela justru membuat orang semakin tertarik untuk memburunya dan akibatnya, penjualan pun meningkat tajam. “Publikasi negatif ini justru menguntungkan kami karena membuat produk kami laris. Setiap kali kami membuat vuvuzela, keesokan harinya sudah habis terjual,” katanya.

Menurut pencipta vuvuzela Neil van Schalkwyk yang membuat terompet ini tujuh tahun lalu, industri vuvuzela saat ini bernilai sekitar 50 juta Rand atau sekitar 6,45 juta dolar AS untuk wilayah Afrika Selatan dan Eropa.

Berbeda dengan Patrice Evra, pemain Afrika Selatan justru menganggap vuvuzela sebagai sebuah orkestra yang bisa memompa semangat juang mereka.

Barangkali suara gaduh tersebutlah yang membantu mereka mampu mencetak gol ke gawang Meksiko pada pertandingan pembukaan di Stadion Soccer City, Jumat lalu.”Bagi kami, vuvuzela adalah pemain ke-13,” kata Siphiwe Tshabalala, pencetak gol pertama Afrika Selatan.

Bisa jadi, tim Afrika Selatan berharap, para penonton bisa menimbulkan suara yang lebih gaduh pada pertandingan kedua saat menghadapi Uruguay di Pretoria, Rabu (16/6). (ant/ Atman Ahdiat )

You must be logged in to post a comment Login