Bertandang Ke Pesantren Darul Uloom Di Johannesburg

Dari kejauhan, bangunan komplek pesantren Darul Uloom lebih mirip benteng di padang gersang karena memang berada di hamparan tanah luas yang dikelilingi semak-semak belukar.

Di bagian depan bangunan berdinding batu bata warna coklat muda itu, terdapat mesjid dengan menara yang tinggi menjulang dan bisa terlihat dari kejauhan.

Tapi saat memasuki komplek, hamparan tanah lapang berumput hijau terbentang sehingga membuat mata menjadi cukup sejuk. Siang itu cuaca berangin dengan suhu sekitar 13 derajat Celsius dan membuat seluruh tubuh menggigil kedinginan.

Dari suasana di komplek pesantren tersebut, pengunjung seolah-olah tidak berada di Afrika Selatan, tapi di Indonesia atau Malaysia. Selain itu, suasana juga jauh dari hingar bingar Piala Dunia 2010. Padahal, Stadion Soccer City yang menjadi salah satu arena pertandingan, hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan mobil dari pesantren itu.

Tidak terlihat satu pun kaum wanita di komplek tersebut karena murid pria dan wanita memang dipisah dengan bangunan yang berjarak sekitar dua kilometer.

Kesan tersebut bisa dimengerti bahwa dari 49 total penduduk Afrika Selatan, hanya sekitar 1,8 juta penganut agama Islam yang sebagian besar adalah keturunan India dan Melayu. “Assalamualaikum brother, Anda dari Indonesia? Alhamdullillah,” kata seorang pria berjenggot tebal, yang berdiri di pintu gerbang komplek pesantren itu.

Pria berpakaian gamis warna hitam tersebut, yang ternyata salah seorang staf pengajar di pesantren itu, bernama Abdullah Devza, warga Afrika Selatan yang mengaku keturunan India.

Menurut Abdullah, pesantren yang oleh warga Afrika Selatan lebih dikenal dengan sebutan ‘madresah’ itu, memiliki 700 murid dari 52 negara, termasuk Indonesia, serta 46 pengajar. “Madrasah ini didirikan oleh masyarakat muslim Afrika Selatan pada 1925 dan merupakan salah satu dari empat madresah yang ada di negeri ini,” kata Abdullah yang menolak ajakan berfoto bersama.

Abdullah dalam bahasa Inggris yang lancar mengakui bahwa ia tidak mengetahui secara persis berapa jumlah pesantren di seluruh Afrika Selatan. “Tapi yang saya tahu, pesantren ini adalah salah satu dari empat pesantren terbesar di negeri ini,” katanya.

Pesantren yang oleh warga lokal disebut madresah itu terletak di Zakariya Park, sekitar 20 menit perjalanan naik mobil di selatan Johannesburg, Propinsi Gauteng. Kota terdekat adalah Lenasia, kota satelit yang dihuni oleh mayoritas umat Muslim.

Lama belajar adalah tujuh tahun untuk menjadi ulama agar bisa menjadi pemimpin dan mengarahkan umat manunsia. Sebagian pelajar Indonesia yang ditemui mengakui bahwa mereka ingin kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan. Saat ini, terdapat sekitar 30-an pelajar dari Indonesia yang umumnya mendapat fasilitas beasiswa.

Salah seorang pelajar Indonesia yang ditemui adalah Abdul Rahim, pria asal Lombok yang juga menjabat sebagai Ketua Presidium Pelajar Indonesia di Afrika Selatan. Abdul berharap bisa menyelesaikan pendidikannya dalam waktu dua bulan lagi dan kembali mengabdi di Indonesia.

“Sepulang nanti ke Indonesia, saya ingin mengajar dengan fokus pada pendalaman pemahaman hadis,” kata Abdul yang sebelumnya belajar di pesantren Al Muttaqin di Ancol, Jakarta.

Ketika ditanya mengapa harus jauh-jauh perlu belajar agama di Afrika Selatan yang bukan negara Islam, Abdul menegaskan bahwa kualitas pengajar di negeri Nelson Mandela ini justru tidak kalah jauh dengan pengajar di Indonesia dan negara lainnya.

“Saya merasakan bahwa pengajar disini juga mempunyai kualitas yang sangat baik dengan wawasan yang luas. Mereka sangat mendalami hadist,” katanya.

Fasilitas di komplek pesantren dengan luas sekitar enam hektar tersebut menurut Abdul juga sangat baik dan modern.

Setiap murid dikutip biaya sebesar 12.000 rand (Rp12 juta lebih) pertahun, ditambah 250 rand untuk biaya kebersihan. Jika ada murid yang tidak mampu, yayasan akan membebaskan dari biaya. Pada prinsipnya, pesantren tersebut tidak pernah menolak mereka yang ingin belajar disitu.

Semua biaya tersebut sudah termasuk biaya sekolah, asrama, makan dan cuci pakaian.

Melongok lebih jauh ke dalam komplek, ada satu mesjid yang luas, seluas mesjid At-Tien di Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Bagian belakang mesjid itu dilengkapi dengan ruang perpustakaan yang menyimpan ribuan koleksi buku tentang Islam. Beberapa santri terlihat tengah serius membaca Al-Quran sambil menunggu waktu shalat zhuhur.

Karena waktu makan siang sudah tiba, beberapa pengurus pesantren tersebut mengajak ANTARA dan beberapa rekan media dari Indonesia untuk menikmati hindangan ‘briyani’, makanan khas Arab yang terdiri atas nasi goreng dan irisan daging kambing, mirip kebuli di Indonesia.

“Silahkan dinikmati, Anda adalah tamu kami yang jauh-jauh datang kesini menyeberangi Samudera Hindia,” kata salah seorang pengurus pesantren dengan ramah. ( ant/ Atman Ahdiat )

You must be logged in to post a comment Login