Presiden SBY menjawab kritikan Megawati. Kalau dua hari lalu mantan Presiden Megawati mengkritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena tidak tanggap atas penderitaan rakyat, di mana harga sembako melambung tinggi, kompor gas meledak di mana-mana, kritikan Mega itu dijawab SBY dengan mengatakan, kenaikan harga sembako wajar menjelang bulan puasa dan lebaran, itu menguntungkan petani setahun sekali.
Namun begitu, SBY tetap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan dan kelangkaan sembako dengan memerintahkan stafnya melakukan Operasi Pasar (OP). Pihak terkait harus memantau perkembangan agar masyarakat tidak resah.
Sejak bulan lalu masyarakat kelas menengah ke bawah mengeluhkan kenaikan harga sembako yang dinilai di luar kewajaran. Disebut tidak wajar karena biasanya harga sembako baru naik memasuki pertengahan Ramadhan, tapi sekarang –belum masuk bulan suci Ramadhan bagi umat Islam—harga kebutuhan pokok masyarakat sudah berlomba naik.
Fakta menunjukkan kalau kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini merata, hampir semua kabupaten-kota mengalami kenaikan, begitu pula yang terjadi di Medan dan kota-kota lainnya di Sumut. Harga beras misalnya, dua pekan ini mengalami kenaikan antara Rp 300 – Rp 1000 karena katanya dipicu harga gabah yang naik di tingkat petani. Untuk kualitas super kenaikannya tertinggi. Biasanya Rp6800 per kg menjadi Rp7800 dan di warung mencapai Rp8000, sedangkan kualitas biasa untuk konsumsi rakyat kecil kenaikannya memang belum begitu melambung. Biasanya Rp5500 kini Rp5800 per kg.
Kita mencatat beragam alasan kenaikan itu, seperti perubahan iklim tak wajarlah, gagal panen, kenaikan harga gabah di tingkat petani, sampai kenaikan TDL dan transportasi. Mana yang benar masih belum ada keterangan pasti dari pemerintah. Menteri Perdagangan Mari ElkaPengestu pun tak mengakui kenaikan harga beras, karena menurutnya stok tersedia (cukup) untuk menghadapi puasa dan lebaran sampai tahun baru nanti. Alasan konyol pun ke luar dari mulut sejumlah pejabat, kalau harga cabai dan bawang mahal nggak usah beli, kan nggak mati tidak makan cabai dan bawang katanya.
Yang sangat meresahkan masyarakat adalah kenaikan harga bahan pokok seperti cabai, bawang dll karena bisa mencapai hampir 200 persen. Harga cabai merah dari Rp 15 ribu menjadi Rp 40 ribu per kilogram. Ini berarti kenaikan melewati 150 persen. Begitu juga dengan harga daging ayam, yang naik dari Rp 16 ribu menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Sementara harga bawang merah naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 18 ribu per kilogram. Untuk bawang putih, naik dari Rp 12 ribu menjadi Rp 22 ribu per kilogram.
Wajar bila rakyat meminta Presiden serius memperhatikan masalah kenaikan harga sembako yang di luar kewajaran sekarang ini. Kita yakin kalau Presiden turun tangan, menaruh perhatian dengan memanggil para menteri terkait, masalah kenaikan harga tidak wajar ini dapat diketahui faktor penyebabnya dan diperoleh solusinya. Besar kemungkinan hanya spekulasi pedagang belaka. Jadi, bukan petani yang diuntungkan tapi para spekulan.
Begitupun jawaban Presiden SBY pantas diberi apresiasi, apalagi Presiden langsung yang mengutarakannya ke publik, bukan diwakilkan ke menteri atau jurubicara. Harapan kita masyarakat khususnya umat Islam bisa tenang menjalankan ibadah puasa Ramadan tanpa dipusingkan dengan kenaikan harga sembako maupun ribut-ribut masalah politik yang tidak penting.=
You must be logged in to post a comment Login