Kemarin umat Islam di dunia, khususnya di Indonesia sudah melaksanakan puasa Ramadhan, bulan yang ditunggu-tunggu karena di dalamnya penuh dengan kebaikan, keberkatan dan ampunan dari Yang Maha Pencipta Alam dan Jagad Raya ini. Wajar kalau umat Islam merasa sukacita menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan 1431 H.
Hari pertama buka puasa memang menyenangkan, sebagian orang berbuka di Ramadhan Fair, tentu saja suasananya beda dengan berbuka di rumah. Kita mendukung kebijakan Pemerintah Kota (Pemko) Medan kembali menggelar kegiatan Ramadhan Fair selama hampir sebulan di kawasan Masjid Raya Medan. Ramadhan Fair yang digelar pada 2010 ini merupakan Ramadhan Fair yang ke-7.
Berarti, sudah tujuh kali terselenggara, dan seharusnyalah panitia sudah bisa belajar banyak dari penyelenggaraan sebelumnya sehingga pada event tahun ini bisa berjalan lebih baik sesuai dengan konsep Ramadhan Fair yang digagas Abdillah, mantan Walikota Medan bersama ulama, tokoh masyarakat dan anggota dewan.
Seperti biasa panitia melibatkan banyak instansi. Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan Risma Hutabarat mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan oleh PT Kemilau Sakti yang merupakan EO (event organizer) pemenang tender pelaksanaan kegiatan tersebut. Dana sebanyak Rp 2,5 miliar dialokasikan untuk pelaksanaan kegiatan tahunan tersebut.
Masyarakat akan disuguhkan dengan Festival Budaya Islami. Beberapa kegiatan seperti festival band remaja dan kegiatan lainnya yang bernuansa Islami akan digelar. Kegiatannya bertambah. Makanya formatnya dibuat lebih apik agar jangan kelihatan seperti kumuh.
Tak pelak lagi konsep Ramahan Fair sudah cukup baik. Namun dalam tataran implementasinya selalu jauh dari harapan sehingga hampir setiap tahun terus-menerus mendapat kritikan dari masyarakat, khususnya para ulama. Kalau panitia menegaskan akan memfokuskannya kepada kegiatan bernuansa Islami, memang seharusnya seperti itu.
Justru itu, perlu pengawasan ketat dalam unsur kepanitiaan sehingga tujuan Ramadhan Fair bisa tercapai. Tujuan untuk menjadi salah satu obyek wisata misalnya, sulit dicapai kalau panitia tidak mampu menampilkan hal-hal yang baru, khas, menarik perhatian turis khususnya dari mancanegara.
Pro-kontra yang terjadi selama ini terkait dengan penyelenggaraan Ramadhan Fair selama ini kita nilai hal biasa. Kritikan yang banyak dilontarkan masyarakat, terutama terkait dengan besarnya anggaran yang disedot dari APBD Medan.
Masalahnya, dengan dukunganPemko yang begitu besar sebenarnya banyak kalanan swasta yang sanggup melaksanakannya tanpa harus keluar uang sepeser pun dari kas Pemko Medan. Hal itu terbukti dengan ‘’mahalnya’’ harga kios atau stand, sulit mendapatkannya.
Peserta harus pintar-pintar melakukan lobi dengan oknum tertentu, bahkan dengan membayar jutaan rupiah untuk bisa berjalan di Ramadhan Fair itu. Kondisi sarat KKN itulah yang mengakibatkan Ramadhan Fair tidak akan pernah sepi dari sorotan, terutama hal yang mengganggu kekhusukan pelaksanaan ibadah, mengingat berdampingan dengan lokasi acara berlangsung terdapat Masjid Raya.
Panitia dalam hal ini Pemko Medan sudah saatnya membentuk satu tim khusus yang melakukan evaluasi dan memantau pelanggaran dalam peraturan Ramadhan Fair. Setiap stand yang melakukan pelanggaran harus diberi sanksi tegas, menutup standnya dan digantikan dengan pedagang lainnya yang sanggup memenuhi aturan. Hanya dengan begitu, suasana religious Ramahan Fair bisa terbangun. Bukan malah dijadikan ajang melanggar sariat Islam.=
You must be logged in to post a comment Login