Jakarta ( Berita ) : Keberhasilan Indonesia dalam menghadapi krisis, meningkatnya peringkat, dan berkurangnya hutang Indonesia membuat Indonesia menjadi pasar yang patut dilirik oleh para investor asing.
Wakil Direktur dari Franklin Templeton Fixed Income Group, Michael Hasenstab PhD, di Jakarta dalam paparan tertulisnya, Minggu [29/08] mengatakan, Indonesia adalah emerging market (pasar yang berkembang) seperti Brazil, berhasil menanggulangi krisis dengan kebijakan fiskal yang sesuai dan pemerintah yang dapat dipercaya.
“Kami mempunyai gambaran positif terhadap Indonesia dan telah berinvestasi di Indonesia selama 5 tahun. Dan telah melihat perubahan yang signifikan seperti reformasi yang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lakukan untuk menanamkan kepercayaan terhadap iklim investasi di Indonesia,” katanya.
Franklin Templeton Investments adalah organisasi manajemen investasi dengan aset pengelolaan sebesar 570,5 miliiar dolar AS per Juni 30,2010.
Michael menambahkan, investasi asing di Indonesia, dapat dilihat dari kenaikan devisa yang cukup signifikan terutama dengan arus investasi asing ke Indonesia.
“Bahkan untuk saat ini, kita bisa melihat bahwa investasi asing di Indonesia telah mencapai angka tertinggi dalam hal persentase,” katanya.
Dan tentunya dengan ini, lanjutnya, bukan tidak mungkin pertumbuhan Indonesia bakal dua atau empat kali lipat, terutama bila didukung dengan peningkatan investasi infrastruktur. “Banyak investor yang yakin, memilih Indonesia untuk malukan investasi strategis dan jangka lama,” katanya.
Bahkan, tambah Michael, dalam keadaan krisis sekalipun Indonesia masih memiliki cadangan devisa,sehingga dapat mengelola krisis ekonomi dengan baik dan memiliki rekening koran yang memadai saat ini. “Dan tentu saja dalam berinvestasi, yang juga perlu diperhatikan adalah evaluasi risiko negara (sovereign risk) tersebut. Disinilah kami optimis kalau Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang rendah,” kata dia.
Investor Asing Memilih Indonesia
Ada beberapa alasan mengapa investor asing memilih Indonesia sebagai target berinvestasi, dia menjelaskan, nilai kredit Indonesia yang positif, kebijakan pemerintah yang mendukung selama masa krisis dan harapan untuk reformasi di masa depan yang dapat mendatangkan investasi asing (FDI).
Michael mengatakan, aliran dana asing yang masuk cukup strategis. Kebijakan fiskal sekarang ini dapat dipertahankan, dana yang masuk ke Indonesia tidak akan dialihkan ke negara lain, jika pasar melihat rasio utang pada PDB berkurang, investasi akan terus bermunculan.
“Saya kira jika iklim investasi meningkat, maka dana akan terus mengalir. Jika dilihat semua faktor tadi menunjukkan trend yang membaik,” kata dia.
Salah satu permasalahannya adalah bagaimana cara memastikan para pembuat kebijakan untuk menerbitkan regulasi yang sesuai dengan keadaan fiskal. Masa ketidakstabilan pasar yang terjadi pada bulan Mei hingga Juni kemarin saat dolar Australia anjlok, Rupiah dan suku bunga Indonesia tetap stabil.
“Hal ini membuktikan bahwa jenis modal yang akan mengalir ke dalam negeri ini merupakan investasi jangka panjang yang strategis. Indonesia layak mendapatkan pujian atas kinerjanya yang tiap tahun membaik, dan pasar juga telah mencermati hal tersebut,” katanya.
Namun, lanjut dia, jika terjadi penuruan pertumbuhan ekonomi secara signifikan di Cina, dampaknya akan besar terutama karena eratnya kaitan pereknomian Indonesia dengan dinamika yang ada di Cina.
“Semua yang dibutuhkan oleh Cina tersedia di Indonesia. Jadi selama Cina masih menjadi acuan stabilitas, Indonesia akan tetap bergantung kepada negara tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pasar akan melihat beberapa indikator penting, pertama, kebijakan fiskal, Pasar akan merasa lebih nyaman dengan adanya surplus atau flat primary balance dan penurunan hutang terhadap rasio PDB.
“Pasar juga mempertimbangkan tingkat kerentanan rekening fiscal yang tinggi, yang merupakan subsidi tingkat tinggi.
Ia mengatakan, pemerintah sudah mulai melakukan penghapusan atau pengurangan subsidi namun pasar tetap berharap upaya ini dapat dilanjutkan di masa yang akan datang.
Kedua, pasar juga memperhatikan pembayaran saldo, terutama pada giro dan aliran investasi asing. Jika investasi tersebut meningkat, dana cadangan juga akan terakumulasi.
Ketiga, dari sisi moneter, kalangan pasar akan terus memperhatikan reaksi bank sentral terhadap pertumbuhan yang kuat.
Dan keempat, dari segi politik, pasar berharap upaya reformasi akan terus berlanjut.
“Memang Indonesia telah melakukan banyak hal, tapi masih lebih banyak lagi yang bisa dilakukan. Faktor utama yang paling penting yaitu keberhasilan gerakan anti korupsi,” paparnya. (ant )
You must be logged in to post a comment Login