Marketing Direktur PT Lafarge Cement Indoensia (LCI) Budi Dermawan (paling kanan) didampingi Product Development Manager PT LCI Palty Hengky Anakampun memberikan pengarahan tukang di lapangan Pasar V Jalan Veteran, Helvetia Medan Minggu (22/8) sore. (Berita Sore/Hj Laswiyati Wakid )
MEDAN (Berita): PT Lafarge Cement Indonesia produsen semen Andalas Aceh ditambah dengan produksi pabrik Lafarge di Langkawi, Malaysia menargetkan mampu meraih market share (pangsa pasar) sebesar 33 persen di Sumatera Bagian utara (Sumbagut) dari total permintaan daerah selama ini sekira 5 juta ton per tahun.
Commercial & Logistics Director PT Lafarge Cement Indonesia Haryanto Chandra mengatakan hal itu kepada wartawan di sela pelatihan meningkatkan kualitas dan keterampilan pekerja bangunan yang digelar perusahaan itu di lapangan Pasar V Jalan Veteran, Helvetia Medan Minggu (22/8) sore.
Ada 200 pekerja bangunan yang menjadi peserta pelatihan. Saat itu dia didampingi Marketing Direktur PT Lafarge Cement Indonesia Budi Dermawan dan Product Development Manager PT Lafarge Cement Indonesia Palty Hengky Anakampun.
Ia menjelaskan pabrik Lafarge Cement Indonesia di Lhoknga, Banda Aceh kini kapasitas produksinya mencapai 1,6 juta ton, meningkat dibanding sebelum tsunami 1,2 juta ton. “Diharapkan akhir tahun ini atau awal 2011 semen Andalas yang 1,6 juta ton/tahun sudah dapat dipasarkan pertama kalinya pasca tsunami ke berbagai daerah Indonesia khususnya Sumut, Riau Daratan dan Riau Kepulauan,” jelas Haryanto.
Semua produksi saat ini, kata dia, masih untuk kebutuhan masyarakat lokal di sana. Artinya, produksi belum sepenuhnya mencapai kapasitas pabrik. Jadi produksi masih sesuai dengan kebutuhan di sana, kalau minta 30.000 ton per tahun atau 40.000 ton per tahun maka dipenuhi sesuai permintaan. Bahan baku tidak ada masalah, sangat cukup. “Kita akan layani sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
“Manajemen siap memenuhi peningkatan permintaan itu karena selain pabrik di Aceh sudah akan beroperasi normal, juga pabrik di Malaysia berstandar Eropa dan Standar Nasional Indonesia berkapasitas 3 jutaan ton itu siap menambah pasokan ke Indonesia.” kata Budi.
Marketing Direktur PT Lafarger Cement Indonesia, Budi Dermawan menambahkan permintaan semen di Sumbagut dan secara nasional tahun ini bertumbuh 6-7 persen akibat pertumbuhan ekonomi termasuk meningkatnya permintaan properti. Menurut prakiraan, pada tahun depan, permintaan akan naik lagi menjadi sekitar 7-10 persen.
Kalau produksi bisa meningkat maka market share semen Andalas juga dapat meningkat. “Bahkan manajemen berharap bisa memasarkan semen itu ke daerah lain sehingga `market share bisa mencapai 50 persenan,” katanya.
Ia menyebut pemasaran semen Andalas masih di empat provinsi yakni Sumatera Utara, Aceh, Riau dan Riau Kepulauan. Konsumsi semen itu paling banyak di Sumut sekira 40 persen, sisanya terbagi di tiga provinsi lainnya. Sedangkan kebutuhan semen di empat provinsi tersebut mencapai 5 juta ton. Kebutuhan semen secara umum di Indonesia sekira 38 juta hingga 40 juta ton. Soal harga, belum ada kenaikan. Namun setiap daerah mungkin harganya beda karena harga tersebut tergantung dari biaya tranportasi.
Menyinggung semen illegal yang ada masuk ke Indonesia, Budi mengatakan sejauh ini belum ada pengaruhnya ke semen Andalas. Sebab para tukang sudah mengerti betul struktur dari semen Andalas. ”Sekarang inilah kami sosialisasikan kepada para tukang tentang tehnik formulasi campuran semen Andalas sesuai peruntukannya. Edukasi lainnya tentang safety (keamanan) dalam bertukang seperti pakai topi helm, rompi maupun masker,” katanya.
Budi menambahkan pelatihan terhadap para pekerja bangunan se-Sumatera Utara untuk Kota Medan di Jalan Veteran Pasar 5 Helvetia Medan Minggu (22/8), disusul kemudian di Jalan Jamin Ginting km 8,5 Medan pada Senin (23/8) yang merupakan sosialisasi semen Andalas kepada konsumen.
Pelatihan ini bertujuan agar para pekerja bangunan mendapatkan tambahan pengetahuan di bidang bangunan terkait dengan semen Andalas. Selain pengetahuan bidang pekerjaan juga ada sosialisasi prosedur keselamatan dan kebersihan di tempat kerja.
“Kami berbagi pengetahuan tentang tata cara memilih, mencampur dan mengaplikasikan semen Andalas dan materil lainnya dengan baik untuk mendapatkan hasil pekerjaan terbaik dan berkualitas,” katanya.
Dengan adanya pelatihan ini, Budi berharap para pekerja bangunan dapat mengenal keunggulan semen Andalas serta dapat mengaplikasikannya dengan tepat. Peran pekerja bangunan sangat penting karena kualitas produk sangat tergantung pada cara pekerja bangunan mengaplikasikan produk.
Ia menjelaskan fungsi semen antara lain sebagai bahan pengikat campuran mulai dari campuran beton, plesteran dinding, lantai sampai campuran untuk memasang batu bata. Karena itu pemakaiannya harus diperhatikan. Apabila tidak maka hasil akhir aplikasi semen menjadi tidak sempurna seperti dinding menjadi retak atau plesteran mengelupas.
“Kerap kali, hasil akhir aplikasi semen yang tidak memuaskan disebabkan cara pengaplikasiannya yang kurang tepat bukan karena kualitas semen yang buruk,” jelasnya. Pelatihan ini dibimbing langsung oleh para instruktur PT Lafarge Cement Indonesia yang ahli di bidangnya. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta memperoleh Sertifikat Program Pelatihan Akademi Semen Andalas dan juga dibagikan hadiah menarik dengan hadiah utama handphone bagi peserta pelatihan terbaik.
Budi menambahkan PT Lafarge Cement Indonesia mengadakan program pelatihan tukang mulai Juli dan berakhir Nopember 2010 untuk wilayah Sumatera Utara berada di 10 kota yakni Medan, Pangkalan Brandan, Stabat, Binjai, Lubukpakam, Tebing Tinggi, Kisaran dan kota lainnya dengan target jumlah peserta 2500 tukang bangunan.
PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) salah satu produsen semen di Indonesia yang diresmikan pada tahun 1983 memiliki pabrik di Lhoknga, Banda Aceh dan empat terminal yakni di Belawan, Dumai, Batam dan Lhokseumawe.
LCI merupakan bagian dari Lafarge Group yang terdepan dalam material bangunan dengan posisi teratas di semua bidang usaha; semen, aggregates & concrete dan gypsum. Saat ini memiliki 84.000 karyawan di 79 negara. (wie)
You must be logged in to post a comment Login