Medan (Berita): Gayung bersambut. Begitu ditantang Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendar Siregar, manajemen Bursa Komoditi Dervative Indonesia BKDI ((Indonesia Commodity & Derivatives Indonesia/ICDX) siap menaikkan target transaksinya menjadi 5.000 lot akhir tahun 2010 mendatang.
“Bagus- bagus. Begitu dong. Harus optimis,” kata Mahendra Siregar sembari bertepuk tangan pada acara penyerahan fisik perdana CPO yang diperdagangkan dalam Kontrak Berjangka CPOTR di Medan, Senin (30/8) semalam.
Seperti diketahui, sejak dilaunching oleh Mendag Mari Elka Pangestu BKDI di Jakarta, Maret tahun 2010, transaksi CPOTR di BKDI baru mencapai 1.000 hingga 1872 lot pada penutupan bursa pukul 18.00, Senin (30/8).
Menurut Mahendra, target transaksi BKDI sekitar 1.000 lot/hari adalah target yang sangat konserpatif. Nah bulan Agustus sudah 1.500 lot. “Tanda petik, saya tantang BKDI naikkan target transaksinya. Saya ingin dengar langsung komitmen dari manajemennya,” tegas Mahendra Siregar di hadapan Dirut BKDI Megain Widjaya dan Komut Feny Widjaya.
Tuntutan Wamendag agar BKDI menaikkan target transaksi cukup beralasan yakni memajukan industri sawit Indonesia untuk menyelamatkan ekonomi pengelolaannya dilakukan secara terintegrasi. Sustainable palm oil, sustainable ekonomi, sustainable lingkungan dan perekonomian masyarakat.
Sementara itu Dirut BKDI Megain Widjaya mengatakan mengiyakan tantangan Wamendag menaikkan target transaksi CPOTR akhir tahun sebesar 5.000 lot/hari.
“Ya kami siap pak. Mudah- mudahan kami bisa implementasikan transaksi 5.000 lota/hari,” ujar Megain sembari mengulas senyum.
Megain juga menjelaskan bahwa transparansi harga komoditi yang ditransaksikan di BKDI terjamin.
“Transaksinya di BKDI dijamin aman. Karena penjamin clearens 100% BKDI. Jadi jangan takut, semua transaksi kami jamin aman,” tegas Megain meyakinkan.
Menjawab pertanyaan bahwa Astra Agro salah satu perusahaan sawit terbesar Indonesia yang belum melakukan transaksi produk CPO-nya di BKDI, Megain menjawab sudah ada komunikasi. “Sudah ada pendekatan. Doakan saja,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu Dedy Saleh, Kepala Badan Pengawas Bursa Komoditi Indonesia (Bapebti) mengatakan belum masuknya sejumlah pengusaha CPO bertransaksi melalui BKDI karena belum mengetahui secara detail prospeknya.
“Ini memang mimpi saya sejak ulu. Di mana Indonesia bisa menentukan harga CPO kita sendiri. Kita tidak lagi tergantung Rotterdam. Saya melihat pasar BKDI ini transparan dan luquid. Cuma mereka mungkin belum tahu. Kalau sudah tahu, jangankan Astra, PTPN atau bahkan orang asingpun seperti Malaysia dan Singapura pasti masuk. Mereka kan bisnis, kalau meraka tahu saya jamin mereka masuk,” kata Dedi Saleh meyakinkan.
Dedi juga mengatakan, selaku pemegang otoritas, pihaknya akan berusaha menciptakan liquiditas sehingga orang asing masuk berbisnis ke BKDI.
“Sudah luquid. Buktinya Philip Futures PTE LTD Singapura sudah masuk. Saya juga berharap Malaysia segera masuk,” paparnya.
CPO merupakan komoditas agroindustri yang mempunyai peranan penting terhadap kinerja ekspor non migas Indonesia. Pada tahun 2008, nilai ekspor CPO Indonesia mencapai sebesar US$ 12,4 miliar atau mampu memenuhi 42 persen dari total permintaan dunia dan memberikan kontribusi sebesar 11,47 persen dari total nilai ekspor non migas Indonesia.
Sementara itu pada tahun 2009, nilai ekspor CPO Indonesia mencapai sebesar US$ 10,4 miliar atau mampu memenuhi 49 persen dari total permintaan dunia dan memberikan kontribusi sebesar 10,63 persen dari total nilai ekspor non migas Indonesia. Untuk periode Januari-Mei 2010, nilai ekspor CPO Indonesia mencapai US$ 3,8 miliar. Ditinjau dari sisi produksi, pada tahun 2008 produksi CPO Indonesia mencapai 19,2 juta ton dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 20 juta ton. (oloan siregar)
You must be logged in to post a comment Login