Yunus Yamani: Kami Sikapi Imigrasi Khusus TKI

Jakarta (Berita): Ketua Umum HImpunan Pengusaha Jasa TKI (Himsataki) Yunus Yamani mengatakan menyikapi dan mengkaji  secara mendalam unit  Imigrasi Khusus untuk memfasilitasi keperluan TKI yang akan bekerja di luar negeri.

“Kami  akan mengkaji unit khusus imigrasi,” kata Yunus  Yamani didampingi Wakil Ketum Apjati Rusdi Basalamah dan Adri Nelwan, tadi  malam di Jakarta.

Yunus juga mempertanyakan kebijakan pemerintah yang mengizinkan pembuatan paspor TKI di seluruh Indonesia. “Kalau pembuatan passport bisa di mana- mana, saya rasa  merepotkan,” ujarnya.

Sebelumnya  pembuatan Pasport TKI hanya bisa di Jakarta. Lantas pemerintah mengizinkan pembuatan pasport TKI di seluruh Indonesia  dengan alas an efisiensi dan memudahkan jangkauan.

Asuransi:

Yunus juga minta Menakertrans Muhaimin Iskandar untuk memfasilitasi keberadaan perwailan asuransi bagi TKI di luar negeri.

“Kita minta Menkertrans Muhaimin Iskandar agar asuransi TKI punya Perwakilan Asuransi di luar negeri. Kalau TKI tidak dikaver asuransi,  bila bermasalah atau meninggal di luar negeri, siapa yg tanggung jawab. Selama ini banyak mayat TKi dipulangkan ke Indonesia. Ini merepotkan PJTKI,” papar Yunus.

Hal senada diakatakan Adri Nelwan. Menurutnya, keberadaan perwakilan asuransi di luar negeri sejak pra dan penempatan TKI memang  harus diadakan.

“Kalau tidak ada ya patut kami protes. Negara lain punya perwakilan asuransi untuk warga negera yang bekerja di luar negeri. Philipina umpamanya. Jangan dikira tenaga kerjanya tidak bermasalah. Banyak bermasalah. Tetapi dikaper sama asuransi. Kedubes mereka bisa menhandel dengan asuransi. Cek di kedutaan mereka, tidak ada pekerja yang sampai mondok seperti TKI kita di kedubes-kedubes di luar negeri,” kata Adri Nelwan yang diamini oleh Rusdi Basalamah.

Zaman Soeharto:

Zaman memang sudah berubah. Ketika Soeharto dan Pak Sudomo, perintahnya terarah dan  tegas. Kalau dikeluarkan perintah atau larangan pasti ditaati semua orang. MIsalnya, melarang pengiriman TKI berangkat  ke Malaysia.

“Dulu kalau Pak Harto alias Soeharto ngomong, tidak ada yang berani bantah.  Begitu juga Pak Sudomo. Kini SBY ngomong tidak dengarin orang,” kata Wakil Ketua Umum Apjati Rusdi Basalamah.

Karenanya Yunus Yamani juga mengkritik lemahnya bargaining posision   pemerintah di mata asing. “Bagaimana nggak lemah. Karena tidak mau bekerja sama dengan kita. Zaman Pak Nuwawea (Jacob Nuwawea) bargaining kita kuat. Yang sekarang waduh? Bayangkan, 30 tahun kita beraktifitas di pengiriman TKI, kita tahu semua. Tapi mana pernah kita dimintai pendapat.  Kita dianggap orang bodoh,” pungkas Yunus prihatin.  (oloan siregar)

You must be logged in to post a comment Login