Direktur Tourism Malaysia untuk Sumatera Suhaimi Bin Abu Hassan Shari. (Berita Sore/Hj Laswiyati Wakid )
MEDAN (Berita): Pada tahun ini, Malaysia menargetkan adanya peningkatan pengunjung atau turis dari Indonesia ke negaranya menyusul Singapura yang kini masih tetap berada di urutan pertama.
Turis dari Indonesia kini berada di urutan kedua terbanyak masuk ke Malaysia,” kata Suhaimi Bin Abu Hassan Shari, Direktur Tourism Malaysia untuk Sumatera di kantornya, Konsulat Jenderal Malaysia Jalan Diponegoro Medan Jum’at (3/9) siang.
Suhaimi menjelaskan pada Januari-Juni 2010, turis Indonesia yang datang ke Malaysia mencapai 1.253.560 orang, meningkat 11,3 persen dibanding posisi sama tahun 2009 sebanyak 1.126.681 orang, menempati posisi kedua terbanyak yang masuk ke Malaysia. Nomor satu turis dari Singapura, pada Januari-Juni 2010 mencapai 6.294.144 orang, meningkat 2,5 persen dibanding posisi sama tahun 2009 sebanyak 6.139.965 orang.
Urutan ketiga terbanyak yang masuk ke Malaysia adalah turis dari Brunei pada Januari-Juni 2010 sebanyak 578.636 orang, meningkat 2 persen dibanding posisi sama tahun 2009 sebanyak 567.172 orang. Keempat dari China (termasuk Hongkong dan Macau), pada Januari-Juni 2010 sebanyak 516.160 orang, naik 10,6 persen dibanding posisi sama tahun 2009 sebanyak 466.685 orang. Menyusul kemudian dari India sebanyak 359.461 orang, naik 24,3 persen dibanding posisi sama (Januari-Juni) 2009. Total turis mancanegara dari berbagai negara yang masuk ke Malaysia pada Januari-Juni 2010 sebanyak 11.868.103 orang, meningkat 4,6 persen dibanding 11.346.444 orang.
Ia menyebutkan pengunjung dari Indonesia, khususnya Medan yang datang ke Malaysia umumnya menyukai tempat-tempat seperti Kuala Lumpur/Selangor 50,9 persen, Serawak 17,8 persen, Penang 13 persen, Kedah/Perlis 9,3 persen. Tempat-tempat lainnya yang populer diminati yakni Pangkor, Langkawi, Redang, Tioman, Kota Kinabalu, Kuching dan Johor Baru.
Untuk meningkatkan turis dari Indonesia, tambah Suhaimi, pihaknya gencar mempromosikan kota-kota wisata melalui travel agen (biro perjalanan) di Indonesia, khususnya Medan. Bagi-bagi brosur wisata melalui penerbangan (airlines) dan grup-grup olahraga, pebisnis maupun ke instansi pemerintah seperti Dinas Pariwisata. Juga kerjasama dengan Dinas Pendidikan seperti pertukaran pelajar dan melalui homestay.
Ia menyebut, di Malaysia kini ada 141 unit homestay dengan 3.283 rumah yang terdaftar sebagai tempat wisata dan pengunjung menginap. Homestay di sana dibantu pemerintah sehingga keamanan dan kebersihannya menarik minat turis untuk menginap. Polanya beragam, turis bisa cuma sekadar menginap dan makan bersama keluarga di homestay tersebut. Bisa juga melakukan aktivitas lainnya mengikuti kegiatan keluarga di homestay itu. Jadi sebenarnya homestay merupakan wisata yang seolah-olah berada di rumah sendiri karena aktivitas yang dilakukan adalah kegiatan sehari-hari penduduk di sana. Tarif homestay bervariasi tergantung fasilitas yang didapatkan tapi paling murah sekira 50 ringgit per malam. “Konsep homestay tinggal bersama di keluarga itu,” katanya.
Sampai kini, katanya, banyak pengunjung homestay dari berbagai negara seperti Rusia, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, negara Skandinavia, Finlandia, Singapura, Brunei dan Indonesia. Daerah homestay di Indoensia antara lain Selangor, Sabah, Kedah, Johor dan Pulau Pinang. “Paling banyak dari Singapura,” kata Suhaimi, bapak lima anak dari istri tercinta Zulina ini.
Suhaimi yang baru menjabat di Medan 12 Juli 2010 ini menuturkan pihaknya juga akan menjalin kerjasama dengan media karena publikasi melalui media dianggap mampu menarik minat wisatawan ke Malaysia.
Dengan meningkatnya turis ke Malaysia menurut dia, secara tidak langsung juga meningkat perbelanjaan di sana. “Jadi target kita selain banyaknya turis masuk ke Malaysia juga meningkatkan devisa melalui banyaknya yang belanja dan menginap di sana. Turis itu investasi langsung,” tegasnya.
Sebaliknya ia juga mengakui turis Malaysia banyak masuk ke Indonesia, khususnya Medan. Umumnya mereka ke sini datang untuk berbelanja. Mereka tertarik dengan barang-barang produk lokal, termasuk juga makanannya. “Orang Malaysia kalau mau makan harus halal,” jelas dia.
Untuk belanja di pasar tradisional, Suhaimi menyayangkan tidak adanya tertera harga yang pas di barang-barang tersebut. Akibatnya banyak warga Malaysia yang masih sungkan belanja karena takut harganya malah ketinggian. Di Malaysia, walaupun pasar tradisional, tetap dibuat label harga agar konsumen dari manapun merasa tidak tertipu dengan harga. Sebab biasanya kalau bukan orang lokal maka harganya bisa saja dimahalkan. “Di Malaysia, semua ada harganya tertera sehingga konsumen merasa tidak tertipu dan tenang dalam belanja,” jelasnya.
Suhaimi yang sebelumnya Direktur Tourism Malaysia di Trengganu selama 2,5 tahun ini menuturkan di Indonesia hanya ada dua Tourism Malaysia yakni di Jakarta dan Medan. Jadi yang Tourism di Medan membawahi wilayah Sumatera kecuali Batam di bawah naungan Toruism Malaysia di Singapura. (wie)
You must be logged in to post a comment Login